Industri tekstil dan garmen Turki kembali membuktikan ketangguhannya di panggung internasional melalui penyelenggaraan edisi ke-9 Istanbul Fashion Connection (IFCO). Meskipun dunia tengah dibayangi oleh volatilitas ekonomi makro yang tidak menentu, pameran mode dua tahunan ini berhasil ditutup dengan catatan positif pada 7 Februari lalu. Selama empat hari di Istanbul Expo Center, sekitar 450 merek Turki memamerkan koleksi terbaru mereka, mulai dari pakaian wanita, pria, anak-anak, hingga gaun malam dan aksesori, membuktikan bahwa kreativitas tidak berhenti di tengah tantangan.

Meskipun jumlah pengunjung tercatat sebanyak 29.746 orang—turun 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya—profil tamu internasional justru tetap kuat, mencakup 38,2 persen dari total kehadiran yang berasal dari 134 negara. Menariknya, pembeli dari Timur Tengah mendominasi dengan porsi hampir 40 persen, disusul oleh pembeli dari Eropa dan Asia. Kehadiran perwakilan perusahaan global seperti Perry Ellis Europe, Paul Smith, hingga MGM Hosiery LLC dari Amerika Serikat menjadi sinyal kuat bahwa produk Turki tetap menjadi primadona di pasar internasional.

Mustafa Gültepe, Presiden Majelis Eksportir Turki (TIM) sekaligus Ketua Asosiasi Eksportir Pakaian Istanbul (IHKIB), menegaskan bahwa keberhasilan acara ini adalah simbol ketahanan industri nasional. "IFCO menunjukkan bahwa industri pakaian jadi Turki siap menghadapi masa depan: tangguh, berbasis desain, dan diposisikan secara strategis untuk memberikan nilai berkelanjutan bagi pasar global, bahkan di masa-masa sulit sekalipun," ujarnya. Pernyataan ini menjadi krusial mengingat sepanjang tahun 2025, ekspor pakaian jadi Turki sempat mengalami tekanan dengan penurunan sebesar 6,3 persen menjadi 16,8 miliar dolar AS.

Transformasi industri menjadi tema besar dalam perhelatan kali ini. Mustafa Paşahan, Presiden IFCO, menjelaskan bahwa industri pakaian Turki menonjol karena kemampuan desain yang kuat dan infrastruktur produksi yang solid. "Industri ini tidak hanya beradaptasi dengan kondisi saat ini, tetapi secara aktif membentuk masa depannya," kata Paşahan. Hal ini terlihat dari area bertajuk The Core Istanbul, yang menampilkan 22 desainer papan atas Turki seperti Özlem Süer dan Mehtap Elaidi dalam balutan instalasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memukau mata pengunjung.

Selain fokus pada desain tinggi, IFCO edisi Februari ini juga mengintegrasikan pameran Linexpo yang didedikasikan untuk pakaian dalam, pakaian renang, dan pakaian santai. Dengan cakupan produk yang semakin komprehensif, Turki berupaya mempertahankan posisinya sebagai pemasok utama dunia, terutama bagi Eropa yang menyerap lebih dari 60 persen ekspor pakaian negara tersebut. Keberhasilan IFCO di tengah perlambatan ekonomi global menjadi pesan tegas bahwa Istanbul tetap menjadi jembatan strategis bagi rantai pasok mode dunia yang dinamis dan inovatif.