Sebuah aliansi langka yang terdiri atas pabrik-pabrik tekstil, importir apparel, dan peritel di Amerika Serikat mengajukan usulan agar kredit tarif dapat melipatgandakan ekspor tekstil ke kawasan Belahan Bumi Barat hingga mencapai USD 29 miliar serta menciptakan lebih dari 56.000 lapangan kerja. Usulan yang diajukan pada 6 Juli kepada Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) ini memungkinkan perusahaan memperoleh kredit ketika membeli tekstil AS atau apparel yang memenuhi syarat dari mitra Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA) dan Perjanjian Perdagangan Bebas Republik Dominika-Amerika Tengah-Amerika Serikat (CAFTA-DR).

Kisah sukses nearshoring industri pakaian jadi Meksiko kini memasuki babak yang lebih menantang. Meskipun posisi Meksiko sebagai mitra dagang strategis Amerika Serikat tetap kokoh berkat kedekatan geografis dan perjanjian USMCA, data terbaru dari TexPro menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Volume ekspor pakaian Meksiko pada Januari hingga April 2026 tercatat sebesar 1,51 miliar dolar AS, angka yang hanya naik tipis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dan masih jauh berada di bawah puncak pencapaian tahun 2023. Di balik angka-angka tersebut, ketergantungan Meksiko terhadap pasar Amerika Serikat semakin absolut, dengan sekitar 96 persen dari seluruh ekspor pakaian mereka menuju ke Utara.

Industri tekstil Amerika Utara kini tengah berada dalam titik balik krusial seiring dengan dimulainya tinjauan formal perjanjian perdagangan USMCA pada Juli 2026. Perhelatan ini bukan sekadar rutinitas diplomatik, melainkan ujian bagi kekuatan ekonomi regional yang selama ini menghubungkan kapasitas produksi benang dan kain Amerika Serikat dengan sektor garmen di Meksiko. Data terbaru dari TexPro menunjukkan angka yang mengejutkan: sebanyak 48,4 persen ekspor benang dan kain AS pada empat bulan pertama tahun 2026 bergantung pada pasar USMCA, dengan Meksiko sebagai konsumen utama yang menyerap 33,9 persen dari total tersebut.

Di tengah badai inflasi yang menghantam hampir seluruh sendi pengeluaran rumah tangga di Amerika Serikat, ada satu sektor yang seolah kebal terhadap tren kenaikan harga yang tak terbendung. Sementara biaya perumahan melonjak tajam, tagihan bahan makanan terus merangkak naik, dan harga energi semakin menekan anggaran, kategori pakaian dan alas kaki justru menunjukkan fenomena yang sangat kontras. Konsumen kini menikmati produk yang jauh lebih baik dibandingkan dua dekade lalu, namun dengan lonjakan harga yang tergolong sangat minim.

Industri pakaian jadi dan alas kaki dunia kini resmi memasuki era transparansi total, di mana asal-usul selembar benang tidak boleh lagi menjadi misteri. Menanggapi makin ketatnya tuntutan regulasi perdagangan internasional, American Apparel and Footwear Association (AAFA) secara resmi menerbitkan panduan bertajuk Global Apparel, Footwear, & Accessories Glossary of Traceability Terms.