Pasar pembuat tren fesyen di Brasil kini tengah mengalami pergeseran pasokan yang masif seiring dengan lonjakan drastis arus masuk produk pakaian jadi dari luar negeri. Berdasarkan data terbaru dari perangkat intelijen pelacakan pasar TexPro, nilai impor pakaian Negeri Samba melesat hingga 18,97 persen pada kuartal pertama tahun 2026, menyentuh angka 833,75 juta dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada di angka 700,82 juta dolar AS. Lonjakan ini terjadi di tengah bayang-bayang ketidakpastian tarif dagang global, fluktuasi nilai tukar mata uang, serta biaya logistik pengapalan laut yang tidak menentu.
Industri tekstil di South Carolina kini membidik angin segar setelah Senator Republik, Lindsey Graham, resmi mengajukan rancangan undang-undang baru bernama Coast Guard Personnel Equipment Act. Langkah legislatif ini dirancang khusus untuk mewajibkan seluruh seragam personel Pasukan Penjaga Pantai Amerika Serikat (US Coast Guard) diproduksi sepenuhnya di dalam negeri. Selama ini, institusi tersebut menjadi satu-satunya cabang militer yang dikecualikan dari aturan wajib belanja domestik, sebuah celah hukum yang dinilai mengancam keamanan nasional sekaligus memukul mata pencaharian buruh lokal.
Sektor tekstil Amerika Serikat saat ini tengah berada di persimpangan jalan yang menentukan antara kepunahan dan kebangkitan. Setelah dihantam badai geopolitik dan ketidakpastian ekonomi yang memaksa 40 pabrik tutup dalam waktu kurang dari dua tahun, industri yang menjadi tulang punggung bagi lebih dari 450.000 pekerja ini mulai menyusun kekuatan baru di Washington. Dengan nilai pengiriman yang menyusut menjadi $60,9 miliar pada tahun lalu, para pelaku industri kini menaruh harapan besar pada sinergi politik di bawah administrasi Trump untuk mengembalikan kejayaan manufaktur domestik.
Kebijakan tarif agresif yang diluncurkan pemerintahan Trump dengan janji membangkitkan kembali industri dalam negeri ternyata membuahkan hasil yang pahit bagi sektor tekstil Amerika Serikat. Alih-alih memicu renaisans manufaktur lokal, data terbaru dari Kearney Reshoring Index 2026 justru menunjukkan fenomena yang mengejutkan: output manufaktur pakaian jadi di AS anjlok drastis sebesar 17 persen sepanjang tahun 2025.
Memasuki pertengahan tahun 2026, lanskap industri tekstil dunia sedang mengalami guncangan hebat yang menempatkan para petani kapas di Amerika Serikat dalam posisi terjepit. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, Brasil diproyeksikan akan melampaui Amerika Serikat sebagai eksportir kapas utama dunia pada musim pemasaran 2025/26. Fenomena ini bukan sekadar masalah persaingan dagang biasa, melainkan kulminasi dari krisis iklim, melonjaknya biaya produksi, dan pergeseran geopolitik yang membuat Tiongkok—pembeli terbesar dunia—memangkas pembelian kapas AS hingga 85 persen demi beralih ke stok domestik dan impor dari Amerika Selatan.
Page 1 of 5