Brasil diproyeksikan akan mempertahankan posisinya sebagai pemimpin utama dalam pasar kapas global untuk musim 2025-2026, meskipun menghadapi sedikit penurunan produksi dibandingkan dengan rekor tertinggi tahun lalu. Berdasarkan laporan terbaru dari Centre for Advanced Studies on Applied Economics (CEPEA), ekspor akan tetap menjadi saluran utama bagi pasokan domestik Brasil, yang sekaligus memperkuat peran strategis negara tersebut dalam peta perdagangan internasional. Ketangguhan sektor agrikultur Brasil ini menjadi sinyal penting bagi industri tekstil dunia yang sangat bergantung pada kepastian stok bahan baku alami.

Memasuki awal tahun 2026, sektor pertanian Brasil menghadapi situasi kontradiktif seiring dengan jatuhnya harga kapas domestik ke level terendah sejak tahun 2009. Penurunan tajam ini dipicu oleh kombinasi antara melimpahnya stok nasional menyusul panen raya yang sukses dan stagnasi permintaan dari industri manufaktur domestik. Meskipun volume ekspor ke pasar internasional, khususnya Asia, tetap menunjukkan tren positif, pasokan yang membanjiri pasar lokal telah menciptakan tekanan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam kurun waktu 16 tahun terakhir.

Fenomena nearshoring yang membawa gelombang pesanan besar dari Amerika Serikat ke koridor Amerika Tengah kini menghadapi ujian berat di sisi fundamental ketenagakerjaan. Laporan industri terbaru awal tahun 2026 menyoroti tantangan keberlanjutan yang krusial di Guatemala, Honduras, dan El Salvador, di mana infrastruktur fisik yang berkembang pesat ternyata belum diimbangi dengan perbaikan hak-hak buruh dan penghapusan kesenjangan gender. Di tengah ambisi wilayah ini untuk menggeser dominasi Asia dalam rantai pasok global, para aktivis dan analis memperingatkan bahwa tanpa perbaikan kesejahteraan pekerja yang nyata, kontrak-kontrak berharga dengan merek global terancam diputus demi mematuhi standar etika internasional yang semakin ketat.

Pemerintah Chili secara resmi memulai langkah ambisius dalam mereformasi industri tekstil dan garmennya dengan mengintegrasikan sistem Paspor Produk Digital (DPP). Kebijakan ini merupakan bagian dari perluasan kerangka Tanggung Jawab Produsen Terperinci (Extended Producer Responsibility/EPR) yang kini menyasar sektor tekstil sebagai salah satu penyumbang limbah terbesar. Melalui mandat baru ini, setiap produk tekstil yang beredar di pasar Chili wajib dilengkapi dengan sistem pelacakan digital yang memuat informasi komprehensif mengenai jejak karbon, asal-usul bahan baku, hingga panduan daur ulang di akhir masa pakai produk.

Pasar pakaian bekas atau second-hand di kawasan Amerika Tengah, khususnya di Guatemala dan Nikaragua, mencatatkan pertumbuhan yang luar biasa pada awal tahun 2026. Fenomena ini tidak lagi sekadar menjadi pasar sampingan, melainkan telah bertransformasi menjadi ekosistem ritel baru yang signifikan dan memberikan kontribusi nyata terhadap perputaran ekonomi lokal. Lonjakan permintaan ini didorong oleh kombinasi antara tekanan inflasi yang membatasi daya beli masyarakat terhadap barang baru serta meningkatnya kesadaran kolektif mengenai keberlanjutan lingkungan dan pengurangan limbah tekstil di kalangan generasi muda.