Di tengah upaya Benua Afrika untuk menjadi pusat manufaktur dunia, Ghana mengambil langkah berani yang diprediksi akan mengubah peta industri tekstil di kawasan Barat. Dalam pidato kenegaraan (SONA) yang disampaikan di Gedung Parlemen pada akhir Februari 2026, Presiden John Dramani Mahama mengumumkan proyek ambisius pembangunan tiga pabrik garmen raksasa di wilayah Timur, Tengah, dan Bono East. Inisiatif ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan sebuah strategi transformasi ekonomi yang ditargetkan mampu menciptakan hingga 27.000 lapangan kerja baru bagi rakyat Ghana.

Proyek ini dirancang untuk beroperasi di bawah kebijakan Ekonomi 24-Jam, sebuah model kerja multi-shift yang bertujuan memaksimalkan kapasitas produksi. Setiap pabrik direncanakan mampu menyerap sekitar 3.000 pekerja dalam satu shift. Langkah ini diambil pemerintah untuk merespons pertumbuhan ekspor non-tradisional Ghana yang melonjak drastis hingga 27,04% pada tahun sebelumnya, mencapai nilai 4,87 miliar dolar AS. Dengan adanya fasilitas baru ini, Ghana berharap dapat memperkuat posisinya dalam rantai pasok global, terutama di bawah kerangka kawasan perdagangan bebas Afrika (AfCFTA).

Menteri Perdagangan, Agribisnis, dan Industri, Elizabeth Ofosu-Adjare, menekankan bahwa sektor garmen memiliki keunikan karena sifatnya yang inklusif dan mampu menyerap tenaga kerja dengan cepat. Dalam keterangannya, ia menjelaskan bahwa industri ini tidak mengharuskan pelatihan bertahun-tahun sebelum seseorang bisa mulai bekerja secara produktif. Sektor ini menjadi jawaban bagi keresahan masyarakat mengenai syarat sertifikat pendidikan yang seringkali menjadi penghalang untuk mendapatkan pekerjaan layak.

"Keindahan dari industri garmen adalah Anda tidak perlu belajar selama tiga atau lima bulan sebelum mulai bekerja. Kami dapat melatih Anda dalam empat minggu, dan Anda sudah memiliki pekerjaan tetap. Industri garmen hadir untuk memberi Anda pekerjaan yang layak, baik Anda memiliki sertifikat pendidikan ataupun tidak. Kami akan melatih Anda langsung di tempat kerja," ujar Ofosu-Adjare.

Strategi ini juga mencakup upaya pemerintah untuk menghidupkan kembali raksasa tekstil masa lalu yang sempat redup, seperti Volta Star Textiles dan Akosombo Textiles Limited. Dengan mengintegrasikan pabrik baru dan merevitalisasi perusahaan milik negara, Ghana berambisi menciptakan ekosistem tekstil dari hulu ke hilir. Lokasi pabrik di wilayah Bono East, misalnya, dipilih secara strategis karena kedekatannya dengan sumber bahan baku, yang diharapkan dapat memangkas biaya logistik dan meningkatkan efisiensi biaya produksi secara keseluruhan.

Melalui kemitraan erat dengan sektor swasta dan dukungan lembaga internasional seperti UNIDO, Ghana optimis bahwa tahun 2026 akan menjadi titik balik bagi industrialisasi nasional. Ambisi besarnya jelas: mengubah kain dan benang menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, sekaligus membuktikan bahwa Afrika mampu memproduksi kebutuhan sandang dunia dengan standar kualitas internasional.