Jawa Tengah tidak hanya dikenal sebagai jantung kebudayaan Jawa, tetapi juga rahim bagi pergerakan kemerdekaan Indonesia. Di balik keindahan motif batik dan lembaran kain tenunnya, tersimpan sejarah pergulatan ekonomi dan politik yang sengit. Pada awal abad ke-20, industri tekstil—khususnya industri batik—menjadi arena pertempuran terbuka antara pengusaha pribumi melawan dominasi pedagang Tionghoa dan kebijakan diskriminatif pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Bagi masyarakat Jawa Barat, nama Majalaya erat kaitannya dengan kain, sarung, dan deru mesin tekstil. Kecamatan yang terletak di Kabupaten Bandung ini sempat dijuluki sebagai "Kota Senter" karena gemerlap aktivitas malam harinya yang disokong oleh roda ekonomi industri tekstil. Jauh sebelum pabrik-pabrik modern berdiri, Majalaya telah menjadi episentrum pertumbuhan tekstil nasional, sebuah perjalanan panjang yang memadukan tradisi, ketahanan ekonomi, dan modernisasi.
Industri tekstil bukanlah sekadar cerita tentang bagaimana selembar kain diproduksi untuk melindungi tubuh dari cuaca. Lebih dari itu, jalinan benang dan anyaman serat adalah cermin dari lompatan teknologi, jalur perdagangan lintas benua, pergolakan politik, hingga revolusi ekonomi yang membentuk peradaban modern. Dari rajutan tangan prasejarah di gua-gua kuno hingga mesin-mesin otomatis di pabrik abad ke-21, industri tekstil adalah salah satu pilar tertua yang menggerakkan roda ekonomi global.
Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) merupakan salah satu pilar manufaktur tertua dan paling strategis dalam sejarah ekonomi Indonesia. Jauh sebelum mesin-mesin pabrik modern bergemuruh, jalinan serat dan benang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya, struktur sosial, dan jalur perdagangan Nusantara. Menelusuri sejarah tekstil Indonesia berarti melihat transformasi besar dari sebuah mahakarya seni tradisi menjadi sektor industri raksasa penggerak makroekonomi nasional.