China tercatat masih belum berhasil merebut kembali posisi dominannya secara penuh di pasar impor tekstil rumah tangga Eropa, meskipun mencatatkan sedikit peningkatan pangsa pasar pada kuartal pertama tahun 2026. Berdasarkan data dari alat intelijen sumber pengadaan TexPro, total impor tekstil rumah tangga Eropa mengalami penurunan menjadi $8,02 miliar pada kuartal pertama 2026, turun dari $8,34 miliar pada periode yang sama di tahun 2025.

Industri tekstil dan pakaian jadi Vietnam menunjukkan ketangguhan di tengah iklim pasar global yang menantang selama semester pertama tahun 2026. Menurut data dari Asosiasi Tekstil dan Pakaian Jadi Vietnam (VITAS), total ekspor tekstil dan pakaian jadi negara tersebut diestimasi mencapai 22,2 miliar dolar AS, mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meskipun angka keseluruhan menunjukkan tren positif, dinamika di lapangan cukup beragam; ekspor serat, kain, aksesori, dan bahan non-tenun mencatatkan pertumbuhan solid antara 5,6 persen hingga 10,6 persen, sementara ekspor pakaian jadi justru mengalami sedikit penurunan sebesar 0,4 persen akibat lemahnya permintaan konsumen di pasar-pasar utama.

Industri ritel pakaian global saat ini menghadapi tantangan ganda akibat kombinasi antara perubahan kebijakan regulasi lingkungan dan pergeseran pola belanja konsumen yang semakin hemat. Berlakunya regulasi Ecodesign for Sustainable Products Regulation (ESPR) di Uni Eropa kini mengharuskan perusahaan untuk lebih transparan dan bertanggung jawab atas pengelolaan stok barang yang tidak terjual, mengingat pemusnahan produk kini menjadi tindakan yang dapat dikenakan sanksi. Di sisi lain, tekanan inflasi, dampak peperangan, dan kenaikan tarif telah menekan pendapatan sekali pakai konsumen, mendorong mereka untuk lebih selektif dalam berbelanja atau beralih ke produk barang bekas.

Industri mode di Eropa saat ini tengah berada di persimpangan jalan yang menentukan masa depan bisnis pakaian cepat saji atau fast fashion. Selama bertahun-tahun, model bisnis yang mengandalkan kecepatan produksi dan harga ultra-murah ini menjadi penggerak utama pasar, namun kini mereka menghadapi gelombang perlawanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tekanan ini datang dari kombinasi aturan ketat Uni Eropa, kesadaran lingkungan yang meningkat, serta perubahan gaya hidup masyarakat yang mulai meninggalkan budaya konsumsi berlebih.

Munculnya pertanyaan mengenai apakah Eropa dapat menggantikan Amerika Serikat sebagai pasar ekspor pakaian jadi terbesar bagi India kini menjadi topik yang mendesak di tengah penurunan ekspor pakaian jadi (readymade garment/RMG) India ke AS sebesar 9,5 persen pada tahun fiskal 2025-26. Penurunan ini terjadi di tengah ketidakpastian mengenai tarif timbal balik dan kekhawatiran yang terus berlanjut terkait konsentrasi pasar. Meskipun Eropa menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan di berbagai destinasi utama, data dari Directorate General of Commercial Intelligence and Statistics (DGCI&S) menunjukkan bahwa menggantikan posisi AS memerlukan lebih dari sekadar kenaikan bertahap di pasar individu.