Industri tekstil global saat ini masih harus berhadapan dengan situasi pasar yang menantang akibat pelemahan permintaan yang masih terus berlanjut. Berdasarkan rilis survei terbaru dari International Textile Manufacturers Federation (ITMF) melalui Global Textile Industry Survey (GTIS), tingkat keyakinan para pelaku anggota industri secara umum mengalami penurunan. Meskipun demikian, di tengah tekanan rantai pasok tersebut, kalangan merek dan peritel justru menunjukkan pengecualian dengan tingkat optimisme yang jauh lebih terjaga dibanding sektor lainnya.

Dunia manufaktur global tampak sedang menapak jalan pemulihan yang mantap di awal tahun 2026. Berdasarkan data terbaru dari UNIDO, output manufaktur dunia mencatatkan kenaikan impresif sebesar 3,1 persen secara tahunan pada kuartal pertama. Namun, di balik angka-angka pertumbuhan yang menggembirakan tersebut, terdapat ironi yang mencolok di lantai produksi pakaian jadi. Berbeda dengan sektor industri lainnya, produksi pakaian justru mengalami kontraksi hampir 3 persen, menciptakan kesenjangan struktural yang kini menjadi sorotan para pelaku industri dan analis pasar.

Industri tekstil global menghadapi dinamika yang kian menantang seiring dengan laporan terbaru yang dirilis oleh The International Textile Manufacturer Federation (ITMF). Melalui publikasi International Textile Industry Statistics (ITIS) mengenai kapasitas produktif dan konsumsi bahan baku di sektor pemintalan jangka pendek terorganisasi di seluruh dunia, terungkap bahwa kapasitas global mengalami penurunan tipis sepanjang tahun 2024.

Pasar kapas dunia mencatatkan pergerakan yang dinamis sepanjang bulan Juli 2026, dengan tren kenaikan harga yang terlihat di berbagai bursa utama. Kontrak berjangka NY/ICE untuk bulan Desember menjadi sorotan utama setelah berhasil menembus level 80 sen per pon, sebuah pencapaian yang didorong oleh momentum positif sejak awal Juli. Kenaikan harga ini tidak terjadi secara tunggal, melainkan melalui serangkaian fluktuasi yang mencerminkan respons pasar terhadap sentimen global yang terus berubah. Tidak hanya di Amerika Serikat, tren kenaikan harga juga merambat ke pasar internasional lainnya seperti Indeks A dan harga kapas di India, yang menunjukkan adanya penguatan permintaan atau setidaknya ketatnya pasokan di beberapa wilayah produsen utama.

Uni Eropa melancarkan langkah tegas yang langsung mengguncang peta perdagangan apparel global menyusul sanksi finansial masif senilai total €750 juta atau sekitar Rp13 triliun yang dijatuhkan kepada dua platform e-commerce raksasa asal China. Kebijakan ini hadir di tengah lonjakan impor pakaian luar negeri ke kawasan Eropa yang mencapai US$145 miliar pada tahun 2025, di mana produk-produk asal China justru semakin memperkuat dominasinya dengan meraup pangsa pasar hingga US$42,09 miliar atau naik sebesar 17,10 persen.