Dunia mode global saat ini tengah dihebohkan oleh tren produk "dupes" atau tiruan yang menawarkan gaya mewah dengan harga miring. Namun, sebuah laporan terbaru mengungkap sisi gelap yang mengerikan: barang-barang palsu ini bukan sekadar masalah pelanggaran hak kekayaan intelektual atau kerugian finansial merek ternama, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan publik. Steve Lamar, CEO American Apparel & Footwear Association (AAFA), memperingatkan bahwa konsumen secara tidak sadar telah membawa produk berbahaya ke dalam rumah mereka.

Berdasarkan studi perlindungan merek terbaru yang didukung oleh firma penjamin mutu Intertek, ditemukan bahwa 41 persen dari sampel produk palsu yang diuji mengandung bahan kimia berbahaya pada tingkat yang mengkhawatirkan. Laporan tersebut memeriksa hampir 40 barang tiruan mulai dari pakaian, alas kaki, hingga aksesori. Hasilnya mengejutkan; banyak di antaranya mengandung logam berat, ftalat, serta zat per- dan polifluoroalkil yang dikenal sebagai "bahan kimia abadi" (PFAS). Salah satu temuan paling ekstrem adalah sepasang sepatu kets tinggi palsu yang mengandung dietil ftalat 650 kali lipat lebih tinggi dari batas regulasi. Ftalat sendiri telah lama dikaitkan dengan masalah reproduksi, gangguan metabolik, hingga risiko kanker.

Ancaman ini tidak berhenti pada alas kaki. Sebuah jaket pria ditemukan mengandung timbal hingga 191 bagian per juta (ppm), zat beracun yang dapat merusak ginjal dan sistem saraf, terutama pada anak-anak. Selain itu, sebuah topi olahraga palsu mengandung formaldehida hampir 10 kali lipat dari batas aman, yang dapat menyebabkan iritasi kulit parah, gangguan pernapasan, dan luka bakar kimia. "Barang tiruan ini terus menjadi ancaman serius. Ini bukan lagi soal gengsi merek, tapi soal keselamatan jiwa konsumen, pekerja, dan lingkungan," tegas Lamar menanggapi temuan tersebut.

Selain risiko residu kimia, laporan ini juga menyoroti kondisi produksi yang mengerikan di balik industri barang palsu. Dalam sebuah penggerebekan di Peru baru-baru ini, petugas menemukan fasilitas produksi kaos anak-anak palsu yang kotor, tidak aman, dan sangat tidak layak bagi pekerja. Kondisi "bawah tanah" seperti ini menjadi standar dalam rantai pasok ilegal yang sering memanfaatkan platform e-commerce pihak ketiga yang tidak teregulasi untuk menjangkau pembeli di seluruh dunia.

Menjelang perhelatan besar seperti Piala Dunia dan Olimpiade 2026 yang diprediksi akan meningkatkan lonjakan belanja, AAFA mendesak Kongres dan Komisi Perdagangan Federal (FTC) untuk segera mengambil tindakan tegas. Mereka mendorong pengesahan SHOP SAFE Act, yang akan mewajibkan peritel daring memenuhi standar keamanan yang sama dengan toko fisik dalam mencegah penjualan produk ilegal. Dengan epidemi situs web penipuan yang kian meluas, para pembuat kebijakan diminta untuk memutus rantai penipuan ini sebelum lebih banyak konsumen jatuh sakit akibat produk yang mereka kenakan.