Ketegangan yang memuncak di Timur Tengah kini memasuki babak baru yang mengkhawatirkan setelah penutupan "teknis" Selat Hormuz secara resmi dilaporkan terjadi pada akhir Februari 2026. Meski jalur perairan ini lebih dikenal sebagai urat nadi energi dunia bagi pengiriman minyak mentah dan gas alam cair, dampak sistemiknya mulai merambat jauh hingga ke rak-rak pakaian di pusat perbelanjaan global. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) kini berada dalam bayang-bayang krisis logistik yang diprediksi akan mengerek harga jual akibat membengkaknya biaya pengiriman dan ketidakpastian jalur distribusi.
Lembaga riset maritim terkemuka, Drewry, dalam laporan terbarunya memperingatkan bahwa meskipun kapal kontainer pengangkut garmen tidak selalu melewati Hormuz secara langsung, ketidakstabilan kawasan ini menciptakan efek domino yang merusak. Penutupan jalur ini memaksa banyak kapal untuk mengantre atau berdiam diri di dekat perairan Oman, yang kemudian mengganggu posisi kapal kontainer di seluruh dunia. Kekacauan jadwal ini diperparah dengan risiko eskalasi ke Laut Merah, yang memaksa perusahaan pelayaran mengambil langkah ekstrem dengan mengalihkan rute melewati Tanjung Harapan di Afrika. Pengalihan ini bukan tanpa konsekuensi, karena menambah waktu tempuh hingga 14 hari untuk pelayaran dari Asia ke Eropa.
Analis logistik global melihat situasi ini sebagai ancaman nyata bagi siklus mode yang sensitif terhadap waktu. Jika pengiriman bahan baku seperti benang dan kain terhambat, maka produksi di pusat-pusat manufaktur Asia akan terganggu. Sebaliknya, pasar di Eropa dan Amerika Utara akan menghadapi kelangkaan stok serta lonjakan harga akibat biaya premi risiko perang dan biaya bahan bakar yang melambung tinggi. "Ketidakstabilan di titik-titik krusial seperti Hormuz menciptakan tekanan luar biasa pada modal kerja perusahaan tekstil karena mereka harus menganggarkan biaya logistik yang jauh lebih besar dari biasanya," ungkap seorang pengamat industri.
Selain masalah rute, kenaikan harga minyak mentah akibat krisis ini secara otomatis mendorong kenaikan harga bahan baku sintetis seperti poliester. Bagi negara-negara pengekspor tekstil di Asia, situasi ini adalah hantaman ganda: biaya produksi naik, sementara ongkos kirim ke pasar utama melambung. Jika penutupan ini berlangsung lama, para pelaku usaha mau tidak mau harus merombak total strategi rantai pasok mereka. Dunia kini menanti dengan cemas, berharap stabilitas maritim di Teluk segera pulih, karena macetnya aliran di Hormuz terbukti bukan hanya masalah energi, melainkan ancaman bagi kelancaran perdagangan barang global secara keseluruhan.