Industri tekstil dan pakaian jadi Tiongkok mulai menunjukkan taringnya kembali di awal tahun 2026, membawa angin segar setelah periode yang penuh tekanan sepanjang tahun lalu. Berdasarkan data terbaru dari Administrasi Umum Kepabeanan Tiongkok (GACC), nilai ekspor gabungan untuk tekstil, pakaian, dan aksesori melonjak tipis 1,21 persen pada periode Januari hingga Maret 2026. Angka tersebut mencapai total $67,079 miliar, melampaui capaian periode yang sama tahun sebelumnya yang tertahan di angka $66,272 miliar. Kenaikan ini dipandang oleh para analis pasar sebagai sinyal kuat bahwa "Sang Naga" mulai memasuki fase pemulihan yang lebih stabil di tengah normalisasi rantai pasok global.
Fenomena menarik terlihat pada pergeseran komposisi ekspor, di mana produk tekstil seperti benang dan kain menjadi motor penggerak utama dengan kenaikan sebesar 2,8 persen menjadi $34,194 miliar. Hal ini didorong oleh geliat manufaktur hilir yang semakin aktif di kawasan Asia, yang sangat bergantung pada pasokan bahan baku dari Tiongkok. Di sisi lain, meskipun ekspor pakaian jadi dan aksesori mengalami sedikit koreksi sebesar 0,4 persen menjadi $32,885 miliar, volume pengiriman secara keseluruhan tetap menunjukkan ketahanan yang luar biasa menghadapi fluktuasi permintaan global.
Geliat di sisi ekspor ini juga diikuti oleh aktivitas impor yang agresif, di mana Tiongkok mencatatkan kenaikan impor benang dan kain sebesar 17,3 persen menjadi $2,682 miliar sepanjang kuartal pertama. Lonjakan impor bahan baku ini mengindikasikan bahwa pabrik-pabrik domestik di Tiongkok tengah melakukan pengisian ulang stok (replenishment) secara besar-besaran, terutama untuk kapas dan benang khusus. Langkah ini diambil guna mengejar target produksi seiring dengan meningkatnya pesanan ekspor yang mulai mengalir masuk kembali dari pasar internasional.
Jika menilik ke belakang, performa di awal 2026 ini merupakan capaian krusial setelah sektor ini sempat terkontraksi 2,42 persen pada tahun 2025. Penurunan tajam yang terjadi pada tahun 2023, di mana ekspor anjlok hingga 8,05 persen, tampaknya telah menjadi pelajaran berharga bagi industri tekstil Tiongkok untuk meningkatkan daya saingnya. Dengan angka bulan Maret saja yang mencatatkan total pengiriman gabungan sebesar $16,635 miliar, Tiongkok seolah ingin membuktikan bahwa posisi mereka sebagai hub tekstil dunia tetap tak tergoyahkan oleh dinamika geopolitik maupun persaingan harga dari negara-negara tetangga.
"Tren positif di kuartal pertama ini menunjukkan bahwa permintaan eksternal mulai membaik dan kepercayaan pembeli global terhadap efisiensi rantai pasok Tiongkok tetap tinggi," ungkap salah satu pengamat perdagangan di Beijing. Meskipun tantangan ekonomi global masih membayangi, pertumbuhan tipis namun konsisten ini menjadi fondasi yang kuat bagi Tiongkok untuk menutup tahun 2026 dengan angka yang jauh lebih positif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sektor ini kini menatap masa depan dengan optimisme hati-hati, mengandalkan integrasi teknologi produksi dan normalisasi perdagangan dunia untuk menjaga momentum pertumbuhan.