Catatan Redaksi dari Riady Madyadinata (Ketua Umum IKA ITT-STTT)

Di sebuah sudut kota Bandung, tepatnya di koridor bersejarah Jalan Jakarta No. 31, gema kejayaan industri tekstil Indonesia seolah enggan memudar. Di sanalah, melalui rumah besar Ikatan Alumni Institut Teknologi Tekstil - Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (IKA ITT-STTT), sosok Riady Madyadinata berdiri di garis depan. Sejak mengemban amanah sebagai Ketua Umum untuk periode 2023–2027, Riady bukan sekadar memimpin sebuah organisasi alumni; ia sedang memimpin sebuah gerakan intelektual untuk menyelamatkan harga diri industri sandang nasional.

Perjalanan Riady dimulai dari kesadaran mendalam bahwa gelar "Ahli Tekstil" (A.T.) yang disandangnya membawa beban moral yang besar. Baginya, kampus STTT bukan sekadar tempat menimba ilmu teknis tentang serat dan benang, melainkan kawah candradimuka yang mencetak para penjaga kedaulatan industri dalam negeri. Ketika ia terpilih dalam Kongres X pada Juli 2023, ia membawa sebuah visi besar: mengubah nostalgia alumni menjadi aksi nyata yang berdampak pada kebijakan negara.

Langkah-langkah Riady dikenal taktis namun penuh empati. Ia kerap terlihat dalam diskusi-diskusi hangat di kementerian, menyuarakan realitas pahit di lapangan—tentang pabrik-pabrik yang meredupkan lampunya dan ribuan buruh yang kehilangan mata pencaharian. Namun, Riady menolak untuk menyerah pada narasi bahwa industri tekstil adalah industri "sunset". Dengan nada bicara yang tenang namun tegas, ia sering membalikkan logika tersebut: "Yang redup bukanlah industrinya, melainkan keberanian kita untuk membenahi sistem yang bocor."

Riady menyadari bahwa tantangan industri tekstil saat ini bukan lagi sekadar masalah teknis produksi, melainkan masalah sistemik yang membutuhkan intervensi kebijakan di tingkat tertinggi. Oleh karena itu, ia aktif menyuarakan kegelisahan para pelaku industri yang mulai kehilangan pasar domestik akibat gempuran barang impor.

Salah satu argumen Riady yang paling kuat adalah penolakannya terhadap label industri sunset (meredup) bagi tekstil Indonesia. Menurut pandangannya, yang mengalami masa sunset bukanlah industrinya, melainkan pabrik-pabrik yang tidak efisien, tidak mau berinvestasi pada mesin baru, dan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan pasar.

Pemikiran beliau menekankan bahwa industri TPT adalah tulang punggung ekonomi yang menyerap jutaan tenaga kerja. Jika industri ini dibiarkan tumbang, dampak sosialnya akan masif. Namun, ia juga jujur dalam mengkritik pelaku usaha domestik; ia mendorong transparansi data dan modernisasi teknologi agar produk lokal memiliki daya saing yang setara dengan produk global.

Salah satu gagasan paling segar yang sering ia dengungkan adalah konsep "Bulog Kapas". Riady membayangkan sebuah masa depan di mana para perajin dan pemilik pabrik tekstil tidak lagi cemas akan fluktuasi harga bahan baku dunia. Dengan adanya lembaga penyangga pasokan serat dan kapas, industri hulu hingga hilir akan memiliki fondasi yang kokoh untuk bertarung di kancah global.

Namun, perjuangan Riady tidak hanya berhenti pada angka dan kebijakan. Di bawah kepemimpinannya, IKA ITT-STTT menjadi jembatan emosional antara generasi senior yang kaya pengalaman dengan generasi milenial dan Gen Z yang mahir teknologi. Ia mendorong revitalisasi SDM tekstil agar mampu menguasai Industri 4.0, memastikan bahwa keahlian tradisional tekstil Bandung tidak lekang oleh zaman, melainkan diperkuat dengan inovasi digital.

Selain memperjuangkan pengesahan RUU Pertekstilan, hal lain yang sedang diperjuangkannya adalah pemberantasan mafia impor dan mafia kuota impor serta optimalisasi TKDN unutuk penguasaan pasar domestik. Ia mendesak pembentukan Satgas Percepatan Tata Kelola Tekstil. Riady melihat bahwa celah-celah impor ilegal melalui pelabuhan tikus atau penyalahgunaan izin impor menjadi "pembunuh berdarah dingin" bagi industri lokal.

Bagi Riady Martadinata, masa depan tekstil Indonesia bergantung pada keberanian pemerintah untuk mengambil kebijakan afirmatif yang proteksionis namun strategis. Ia terus mendorong pembentukan Komite Kebijakan Industri TPT yang dipimpin langsung oleh Presiden, agar sinkronisasi antara Kementerian Perindustrian, Perdagangan, dan Keuangan dapat berjalan tanpa ego sektoral.

Aksi dan pemikiran Riady adalah refleksi dari kecintaannya pada almamater dan negaranya. Melalui IKA ITT-STTT, ia membuktikan bahwa intelektualitas teknis yang dipadukan dengan kepedulian sosial dapat menjadi katalisator bagi perubahan besar. Di tangan para pemimpin yang memiliki visi seperti beliau, industri tekstil Indonesia diharapkan tidak hanya sekadar bertahan, tetapi kembali berjaya di negeri sendiri.

Riady Martadinata adalah sosok yang percaya bahwa sehelai kain Indonesia membawa cerita tentang identitas dan kemandirian. Melalui berbagai forum, ia terus menabur keyakinan bahwa jika pemerintah, akademisi, dan praktisi bersatu dalam satu irama, industri tekstil Indonesia tidak hanya akan bertahan dari badai, tetapi akan kembali menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Baginya, perjuangan ini adalah maraton panjang, dan ia siap berlari di garda terdepan demi memastikan benang-benang industri nasional tidak akan pernah putus.