Bagi masyarakat Jawa Barat, nama Majalaya erat kaitannya dengan kain, sarung, dan deru mesin tekstil. Kecamatan yang terletak di Kabupaten Bandung ini sempat dijuluki sebagai "Kota Senter" karena gemerlap aktivitas malam harinya yang disokong oleh roda ekonomi industri tekstil. Jauh sebelum pabrik-pabrik modern berdiri, Majalaya telah menjadi episentrum pertumbuhan tekstil nasional, sebuah perjalanan panjang yang memadukan tradisi, ketahanan ekonomi, dan modernisasi.

Berikut adalah rekam jejak sejarah industri tekstil Majalaya yang dihimpun dari berbagai catatan sejarah dan sumber kompeten ekonomi-budaya.

1. Akar Tradisi: Era Gedogan dan Kelahiran Tekstil Rumahan (Sebelum 1920)

Industri tekstil di Majalaya tidak lahir begitu saja dari modal besar, melainkan dari tradisi agraris masyarakatnya. Pada awal abad ke-20, kegiatan menenun merupakan pekerjaan sampingan para petani saat menunggu masa panen atau setelah selesai mengolah sawah.

Pada masa ini, alat yang digunakan sangat tradisional, yaitu Alat Tenun Gedogan. Disebut demikian karena alat kayu ini diletakkan di pangkuan penenun dan menghasilkan bunyi "dog-dog-dog" saat dioperasikan. Produk yang dihasilkan umumnya adalah kain sarung poleng (kotak-kotak) dan kain panjang untuk kebutuhan lokal. Keterampilan ini diwariskan secara turun-temurun, menjadikan Majalaya memiliki basis pengrajin tenun yang sangat kuat dibandingkan daerah lain di Priangan.

 

2. Lompatan Teknologi: Masuknya ATBM dan Peran TIW (1920–1940)

Titik balik industrialisasi tekstil di Majalaya terjadi pada dekade 1920-an. Pemerintah Kolonial Hindia Belanda melalui Textiel Inrichting Bandoeng (TIW) atau Institut Tekstil Bandung berhasil mengembangkan inovasi teknologi berupa Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang dikenal dengan model TIW.

Inovasi ATBM: Alat ini digerakkan dengan kaki dan tangan secara simultan, memungkinkan proses penenunan berjalan jauh lebih cepat dengan hasil kain yang lebih lebar dan rapi dibandingkan alat gedogan.

Seorang tokoh lokal bernama H. Abdul Ghani bersama beberapa saudagar lokal lainnya menjadi pelopor yang mengadopsi teknologi ATBM ini di Majalaya pada tahun 1920-an. Keberhasilan mereka memicu migrasi massal dari alat gedogan ke ATBM.

Dalam waktu singkat, rumah-rumah penduduk di Majalaya berubah menjadi pabrik-pabrik tenun skala kecil (cottage industry). Pada tahun 1930-an, Majalaya resmi menjadi produsen utama kain tenun di Hindia Belanda, menyuplai kebutuhan sandang Nusantara dan mulai mengurangi ketergantungan pada kain impor dari India dan Jepang.

 

3. Masa Pendudukan Jepang dan Perang Kemerdekaan (1942–1949)

Puncak keemasan awal sempat terganggu saat Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942. Pasokan benang katun yang sebagian besar masih diimpor terputus total. Jepang mengontrol ketat distribusi bahan baku dan mewajibkan pabrik-pabrik di Majalaya memproduksi kain untuk keperluan militer mereka.

Namun, kreativitas para pengrajin Majalaya diuji di sini. Akibat kelangkaan benang, mereka mulai memanfaatkan serat nanas, serat pisang, hingga memintal kembali kain-kain bekas untuk dijadikan pakaian. Setelah proklamasi kemerdekaan, selama masa revolusi fisik (1945–1949), wilayah Majalaya yang strategis juga sempat menjadi basis logistik sandang bagi para pejuang kemerdekaan.

 

4. Era Keemasan "Kota Senter" dan Nasionalisasi (1950–1960-an)

Pasca-kemerdekaan, industri tekstil Majalaya memasuki masa kejayaannya yang paling legendaris. Pada dekade 1950-an, Pemerintah Indonesia menerapkan Program Benteng yang bertujuan menumbuhkan pengusaha pribumi. Pengusaha tekstil Majalaya mendapatkan proteksi ekonomi dan kuota bahan baku benang dari pemerintah.

Pada masa inilah julukan "Kota Senter" lahir. Karena aktivitas produksi yang tidak pernah berhenti selama 24 jam, para pekerja malam dan buruh pabrik hilir mudik di jalanan Majalaya yang gelap dengan membawa senter sebagai alat penerang. Ekonomi Majalaya tumbuh masif, melahirkan kelas baru "juragan tekstil" yang kaya raya.

Karakteristik Industri Majalaya (1950-an)

  • Struktur Kepemilikan: Didominasi oleh pengusaha pribumi lokal berskala kecil hingga menengah.

  • Produk Unggulan: Sarung pelekat (sarung kotak-kotak khas Majalaya) yang menjadi identitas sandang kaum muslim di Indonesia.

  • Sistem Kerja: Padat karya yang menyerap puluhan ribu tenaga kerja dari wilayah Bandung Selatan dan sekitarnya.

 

5. Gelombang Mekanisasi dan Korporatisasi (1970–1990-an)

Memasuki era Orde Baru di bawah regulasi Undang-Undang Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), industri tekstil Majalaya dipaksa melakukan transisi besar-besaran: dari ATBM ke Alat Tenun Mesin (ATM).

Aspek Era ATBM (Sebelum 1970) Era ATM (Pasca 1970)
Sumber Energi Tenaga Manusia (Fisik) Listrik / Motor Penggerak
Kapasitas Produksi Terbatas, bergantung stamina pekerja Tinggi, konstan 24 jam
Struktur Modal Modal mandiri / keluarga skala kecil Modal besar, korporasi, investasi asing

Mekanisasi ini membawa dampak ganda. Di satu sisi, volume produksi tekstil Majalaya melonjak drastis dan mampu menembus pasar ekspor. Di sisi lain, para pengrajin kecil yang tidak memiliki modal untuk membeli mesin modern berguguran. Industri yang semula berbasis kerakyatan di rumah-rumah mulai bergeser ke kawasan industri pabrik besar yang padat modal. Menjelang akhir tahun 1980-an, Majalaya telah bertransformasi menjadi salah satu kawasan industri tekstil terintegrasi, mulai dari pemintalan (spinning), penenunan (weaving), hingga pencelupan (dyeing/finishing).

 

6. Tantangan Abad ke-21: Krisis Moneter hingga Gempuran Impor

Kejayaan industri tekstil Majalaya menghadapi ujian berat bertubi-tubi sejak akhir abad ke-20:

  • Krisis Moneter 1998: Melonjaknya harga bahan baku impor (kapas dan benang) membuat banyak pabrik gulung tikar.

  • Isi Lingkungan: Limbah cair dari industri pencelupan tekstil mulai menjadi sorotan nasional karena mencemari Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, memicu pengetatan regulasi lingkungan (seperti program Citarum Harum).

  • Gempuran Produk Impor: Masuknya tekstil dan pakaian jadi impor ilegal maupun legal dengan harga yang jauh lebih murah (terutama dari Tiongkok) menggerus pasar domestik yang selama ini dikuasai Majalaya.

 

Sejarah industri tekstil di Majalaya adalah kisah tentang adaptasi dan daya tahan. Dari ketukan ritmis alat gedogan di emperan rumah petani, hingga deru ribuan mesin tenun modern di dalam pabrik besar, Majalaya telah membuktikan dirinya sebagai tulang punggung sandang nasional selama lebih dari satu abad.

Meskipun saat ini menghadapi tantangan globalisasi dan digitalisasi yang berat, identitas Majalaya sebagai "Kota Tekstil" tidak pernah luntur. Upaya modernisasi mesin yang ramah lingkungan, diversifikasi produk (seperti kain hijab dan pakaian olahraga), serta pemanfaatan e-commerce menjadi babak baru yang sedang ditulis oleh generasi penerus tekstil Majalaya hari ini demi menjaga agar senter kemakmuran di Bandung Selatan tersebut tetap menyala.