Korea Selatan mencatatkan pertumbuhan positif pada sektor impor pakaian jadi selama paruh pertama tahun 2026, menandakan kuatnya dinamika pasar domestik di tengah tantangan ekonomi global. Berdasarkan data terbaru dari Trademap, total nilai impor pakaian negara tersebut mengalami peningkatan sebesar 2,27 persen menjadi 5,658 miliar dolar AS pada periode Januari hingga Juni 2026. Angka ini tercatat lebih tinggi jika dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama di tahun 2025, yakni sebesar 5,531 miliar dolar AS. Menariknya, laju pengiriman ini menunjukkan lonjakan pertumbuhan yang jauh lebih signifikan memasuki pertengahan tahun.

Bila ditelaah lebih rinci, nilai impor untuk pakaian dan aksesori pakaian rajut pada enam bulan pertama tahun 2026 berhasil menembus angka 2,480 miliar dolar AS. Pencapaian tersebut mencatatkan kenaikan sebesar 4,45 persen dari angka 2,375 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya. Sementara itu, impor pakaian dan aksesori non-rajut turut menyumbang stabilitas pasar dengan mencetak total 3,177 miliar dolar AS. Perolehan ini merepresentasikan peningkatan sebesar 0,65 persen dibandingkan capaian 3,156 miliar dolar AS pada periode Januari hingga Juni 2025.

Akselerasi pertumbuhan ini paling kentara terlihat pada catatan bulanan di bulan Juni 2026. Pada bulan tersebut, total impor pakaian Korea Selatan melesat naik sebesar 4,54 persen menyentuh angka 851,743 juta dolar AS jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Secara spesifik di bulan Juni, pakaian rajut meraup nilai 375,519 juta dolar AS atau meroket tajam hingga 10,94 persen secara tahunan, sedangkan pakaian non-rajut mencapai nilai 476,224 juta dolar AS dengan kenaikan mencapai 9,41 persen.

Kondisi ini menyajikan sebuah kontras yang menarik mengingat Korea Selatan secara tradisional dikenal sebagai negara pengekspor kain dan material tekstil, namun sangat bergantung pada impor untuk produk pakaian jadi. Bersamaan dengan menguatnya tren impor busana, kinerja ekspor material mentah negara ini justru sedang mengalami tekanan. Sepanjang paruh pertama 2026, nilai ekspor filamen buatan dan material sejenisnya merosot 5,58 persen menjadi 845,404 juta dolar AS. Kain rajut atau kaitan juga mengalami kontraksi sebesar 9,23 persen menjadi 698,818 juta dolar AS.

Pelemahan ekspor bahan baku tekstil ini disinyalir menjadi imbas dari lesunya permintaan tekstil global serta ketatnya persaingan dengan produsen dari negara-negara berbiaya rendah. Rentetan dinamika ini mempertegas pergeseran pola perdagangan tekstil Korea Selatan yang kini tampaknya berupaya menjaga stabilitas rantai pasok dengan terus mengandalkan pemenuhan pakaian jadi dari negara lain. Hal ini juga melanjutkan pola aktivitas yang terjadi secara historis pada tahun 2024 dan 2025 lalu, di mana penyerapan nilai impor pakaian jadi Korea Selatan terus mendominasi dan selalu berhasil bertahan stabil di atas kisaran angka 12 miliar dolar AS setiap tahunnya.