Sektor tekstil dan garmen telah lama menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang penting di Uzbekistan dan Kyrgyzstan. Namun, seiring dengan pengetatan standar keberlanjutan oleh Uni Eropa dan pasar global lainnya, kedua negara kini dihadapkan pada tuntutan mendesak untuk segera mengadopsi prinsip ekonomi sirkular. Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis oleh Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), terungkap bahwa meskipun kesadaran mulai meningkat, sebagian besar perusahaan di kedua negara tersebut masih berada pada tingkat sirkularitas yang rendah.

Struktur industri tekstil di kedua negara ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Uzbekistan membangun sistem klaster tekstil kapas terintegrasi vertikal yang mencakup seluruh rantai produksi dari hulu hingga hilir, serta memiliki persentase perusahaan berskor sirkularitas tinggi sebesar 23 persen terutama dari perusahaan berskala besar. Sebaliknya, industri garmen di Kyrgyzstan didominasi oleh usaha kecil dan menengah (UKM) yang beroperasi dengan model potong-buat-jahit (cut-make-trim) yang berorientasi ke pasar regional, di mana tidak ada perusahaan yang mencatatkan skor sirkularitas tinggi dan 87 persen di antaranya mendapat skor rendah.

Dari segi praktik di lapangan, efisiensi energi menjadi langkah sirkular yang paling banyak diadopsi melalui penggunaan lampu LED dan peralatan hemat energi. Kendati demikian, adopsi tersebut lebih didorong oleh motivasi pemangkasan biaya operasional ketimbang strategi lingkungan. Sebaliknya, pengelolaan limbah dan pengadaan bahan baku menjadi lini terlemah di kedua negara akibat keterbatasan infrastruktur dan pasar. Kyrgyzstan sangat bergantung pada kain impor tanpa standar lokal yang memadai, sementara Uzbekistan memiliki keterlibatan pengadaan bersertifikat yang lebih tinggi karena didorong oleh perusahaan berorientasi ekspor.

Untuk mengatasi tantangan ini, laporan UNDP menekankan pentingnya digitalisasi sebagai prioritas utama, seperti penerapan paspor produk digital dan sistem pelacakan. Uzbekistan sendiri telah memiliki sistem pelacakan kapas elektronik berbasis kode batang dan RFID yang dapat diperluas untuk melacak serat daur ulang. Pendekatan sistemik yang mencakup reformasi regulasi, insentif finansial untuk investasi teknologi daur ulang dan energi terbarukan, peningkatan kapasitas, serta kolaborasi lintas batas antara Uzbekistan dan Kyrgyzstan sangat diperlukan guna mengakselerasi model produksi sirkular yang berkelanjutan di kawasan tersebut.