Australia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat konsumsi pakaian tertinggi di dunia, di mana jejak karbon dari konsumsi fesyen di negara ini tercatat sebagai yang terbesar di antara seluruh negara anggota G20. Menghadapi krisis tumpukan limbah tekstil yang kian mengkhawatirkan, para peneliti dari Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) mengembangkan metode inovatif untuk mengubah limbah tekstil berbahan kapas menjadi kompos yang bernutrisi tinggi bagi tanah.

Menurut Amanpreet Singh dari Fakultas Fesyen dan Tekstil RMIT, setiap individu di Australia rata-rata mengonsumsi sekitar 47 kilogram pakaian setiap tahunnya, dengan 24 kilogram di antaranya langsung dibuang begitu saja. Kondisi ini memicu jutaan ton pakaian berakhir di tempat pembuangan akhir setiap tahun. Padahal, hanya sebagian kecil saja yang berhasil didaur ulang atau disalurkan kembali ke pasar pakaian bekas, sehingga limbah pakaian berbahan serat alami idealnya diarahkan untuk mengalami proses biodegradasi secara alami.

Proyek riset terobosan ini dipimpin oleh Profesor Rajkishore Nayak dan mendapat pendanaan langsung dari Cotton Research and Development Corporation (CRDC), yang merupakan bentuk kemitraan strategis antara pemerintah Australia dan para petani kapas setempat. Untuk menuntaskan masalah ini, RMIT mengerahkan tim multidisiplin dari kampus Melbourne dan Vietnam yang memiliki keahlian khusus di bidang material tekstil, kimia pengomposan dan biodegradasi, hingga pemodelan logistik rantai pasok. Fokus utama riset ini bermuara pada dua pertanyaan krusial, yakni menentukan metode pengomposan terbaik untuk limbah kapas serta menemukan lokasi geografis paling ekonomis di Australia untuk mendirikan fasilitas pengomposan.

Dalam menjalankan risetnya, tim peneliti merancang prosedur lima tahap yang mencakup pengumpulan limbah tekstil, penyortiran, pembersihan, pencacahan bahan kaya kapas, proses pengomposan, pengujian kualitas kompos, hingga pemetaan lokasi optimal untuk fasilitas masa depan. Berdasarkan serangkaian uji coba tersebut, tim menyimpulkan bahwa vermikompos—sebuah metode pengomposan yang memanfaatkan cacing tanah untuk menguraikan bahan organik—merupakan cara paling efektif. Metode ini terbukti menghasilkan kompos yang kaya akan kandungan nitrogen, fosfor, dan potasium, yang jauh lebih aman dan bermanfaat bagi kesehatan tanah dibandingkan penggunaan pupuk kimia sintetis.

Sebagai tahap akhir dari proyek riset, tim juga merancang pemodelan logistik guna menentukan lokasi pendirian fasilitas pengomposan yang paling praktis dan ekonomis. Guru besar manajemen logistik dan rantai pasok RMIT, Vinh Thai, menjelaskan bahwa penentuan lokasi ini mempertimbangkan berbagai kriteria ketat seperti harga tanah, aksesibilitas jalan dan utilitas, kondisi suhu serta kelembapan udara, hingga jarak aman dari kawasan pemukiman, budaya, dan area yang dilindungi. Melalui kombinasi analisis kriteria dan pemodelan kuantitatif jarak transportasi, wilayah Ripley Valley di Queensland terpilih sebagai opsi terbaik untuk fasilitas pengomposan nasional tunggal, disusul beberapa titik potensial lainnya untuk tingkat negara bagian. Saat ini, para peneliti RMIT terus melanjutkan pengembangan temuan tersebut melalui eksperimen lanjutan di bawah kondisi terkendali maupun tidak terkendali guna memperluas dampak positifnya di masa mendatang.