Sektor tekstil dan garmen telah lama menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang penting di Uzbekistan dan Kyrgyzstan. Namun, seiring dengan pengetatan standar keberlanjutan oleh Uni Eropa dan pasar global lainnya, kedua negara kini dihadapkan pada tuntutan mendesak untuk segera mengadopsi prinsip ekonomi sirkular. Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis oleh Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), terungkap bahwa meskipun kesadaran mulai meningkat, sebagian besar perusahaan di kedua negara tersebut masih berada pada tingkat sirkularitas yang rendah.
Australia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat konsumsi pakaian tertinggi di dunia, di mana jejak karbon dari konsumsi fesyen di negara ini tercatat sebagai yang terbesar di antara seluruh negara anggota G20. Menghadapi krisis tumpukan limbah tekstil yang kian mengkhawatirkan, para peneliti dari Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) mengembangkan metode inovatif untuk mengubah limbah tekstil berbahan kapas menjadi kompos yang bernutrisi tinggi bagi tanah.
Industri fesyen global kini mulai mengadopsi strategi yang tidak biasa dengan mendorong para pelanggannya untuk memperbaiki pakaian lama alih-alih terus-menerus membeli produk baru. Di tengah tekanan untuk menekan polusi lingkungan serta perubahan iklim, sejumlah merek pakaian terkemuka mulai menjadikan layanan perbaikan di dalam toko dan lokakarya menjahit sebagai daya tarik utama bagi konsumen muda yang ingin menghemat pengeluaran sekaligus menjaga kelestarian bumi.
Pemerintah Prancis secara resmi memulai langkah strategis baru dengan memberikan batas waktu hingga 8 Januari 2027 untuk memutuskan apakah negara tersebut akan mendorong produk tekstil agar dimasukkan ke dalam mekanisme penyesuaian perbatasan karbon atau Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) milik Uni Eropa. Langkah ini menandai babak baru perdebatan dagang yang berpotensi mengubah lanskap pasokan tekstil global secara drastis.
Uni Eropa saat ini tengah menulis ulang aturan mengenai keberlanjutan industri fashion melalui seperangkat regulasi paling komprehensif yang pernah dihadapi sektor tersebut. Namun, di tengah ambisi besar ini, hambatan untuk meningkatkan skala tekstil sirkular masih terus berlanjut. Kondisi tersebut terjadi bukan karena kurangnya regulasi, melainkan akibat belum terbentuknya kondisi finansial dan pasar yang tepat di lapangan. Global Fashion Agenda lantas meluncurkan seruan aksi atau Call to Action untuk mendesak para pembuat kebijakan di tingkat nasional maupun Uni Eropa agar segera mengkaji serta menghadirkan berbagai insentif penunjang demi memastikan sirkularitas dapat berjalan secara nyata dalam praktik perdagangan.
Page 1 of 5