Uni Eropa saat ini tengah menulis ulang aturan mengenai keberlanjutan industri fashion melalui seperangkat regulasi paling komprehensif yang pernah dihadapi sektor tersebut. Namun, di tengah ambisi besar ini, hambatan untuk meningkatkan skala tekstil sirkular masih terus berlanjut. Kondisi tersebut terjadi bukan karena kurangnya regulasi, melainkan akibat belum terbentuknya kondisi finansial dan pasar yang tepat di lapangan. Global Fashion Agenda lantas meluncurkan seruan aksi atau Call to Action untuk mendesak para pembuat kebijakan di tingkat nasional maupun Uni Eropa agar segera mengkaji serta menghadirkan berbagai insentif penunjang demi memastikan sirkularitas dapat berjalan secara nyata dalam praktik perdagangan.

Tantangan inti yang dihadapi industri saat ini murni bersifat ekonomi, di mana tekstil sirkular hanya akan mampu berkembang luas apabila sistemnya berfungsi sebagai pasar yang layak, dapat diprediksi, serta didukung melalui langkah-langkah terarah hingga mencapai titik kompetitif secara komersial. Pada kenyataannya, tidak satupun dari kondisi ideal tersebut yang sudah terpenuhi saat ini. Permintaan terhadap bahan daur ulang memang mulai merangkak naik menyusul aturan ecodesign wajib yang akan segera diberlakukan, tetapi permintaannya masih sangat bergejolak. Di sisi lain, pasokan bahan baku sangat terbatas dengan kurang dari 1 persen tekstil yang benar-benar didaur ulang menjadi pakaian baru.

Di berbagai wilayah Uni Eropa, kapasitas untuk pengumpulan, penyortiran, dan pendauran ulang masih sangat tertinggal, memaksa banyak operator menutup usahanya. Serat daur ulang juga terus berjuang keras untuk bersaing dalam hal harga melawan bahan alternatif perawan atau virgin materials. Akibat dari ketimpangan ini adalah pasar yang gagal berfungsi dengan baik, penundaan investasi besar-besaran, infrastruktur yang mangkrak, serta sirkularitas yang tetap tertahan di bawah skala ekonomis. Masalah ini semakin diperparah oleh fragmentasi di seluruh kawasan Uni Eropa, di mana pendekatan nasional yang berbeda-beda dalam penerapan Extended Producer Responsibility (EPR), definisi limbah yang tidak jelas, serta linimasa adopsi undang-undang yang tidak selaras justru memicu ketidakpastian hukum di pasar tunggal.

Untuk menutup kesenjangan ekonomi ini, perbaikan fundamental pada cara kerja sistem pasar mutlak diperlukan. Langkah pertama adalah memastikan tekstil sirkular beroperasi di lingkungan pasar yang dapat diprediksi melalui sinyal permintaan yang stabil serta kepastian jangka panjang agar perusahaan berani mengucurkan modal skala besar. Langkah kedua adalah menciptakan pasar tunggal yang terharmonisasi, di mana penerapan skema EPR yang konsisten dan aturan kepatuhan lintas batas yang lebih sederhana dapat menekan biaya operasional perusahaan secara signifikan. Langkah ketiga adalah memberikan dukungan finansial dan ekonomi yang terarah untuk mempersempit selisih harga bahan daur ulang yang saat ini bisa mencapai dua kali lipat lebih mahal dibandingkan bahan mentah biasa.

Besarnya tantangan ini tercermin dari estimasi kebutuhan modal investasi senilai 8 hingga 11 miliar euro hanya untuk membangun infrastruktur daur ulang tekstil di seluruh kawasan Uni Eropa. Dana sebesar itu mustahil mengalir tanpa adanya kejelasan permintaan pasar dan manajemen risiko yang matang. Oleh karena itu, insentif finansial bukan sekadar pelengkap regulasi, melainkan penentu utama keberhasilan transisi mode sirkular. Menjelang peluncuran Circular Economy Act pada bulan September mendatang, Uni Eropa memiliki kesempatan emas untuk membenahi kegagalan pasar ini dengan merampingkan aturan lintas batas, menyederhanakan kepatuhan EPR, serta membuka ruang bagi instrumen fiskal demi memicu masuknya modal swasta secara masif.