Industri fesyen global kini mulai mengadopsi strategi yang tidak biasa dengan mendorong para pelanggannya untuk memperbaiki pakaian lama alih-alih terus-menerus membeli produk baru. Di tengah tekanan untuk menekan polusi lingkungan serta perubahan iklim, sejumlah merek pakaian terkemuka mulai menjadikan layanan perbaikan di dalam toko dan lokakarya menjahit sebagai daya tarik utama bagi konsumen muda yang ingin menghemat pengeluaran sekaligus menjaga kelestarian bumi.
Merek-merek besar dunia seperti Levi Strauss & Co., Uniqlo, dan Primark berlomba-lomba memikat hati konsumen dari kalangan Generasi Z dengan mengandalkan jarum dan benang. Levi's bahkan meluncurkan program pelatihan jahit tangan khusus bagi pelajar sekolah menengah setelah menyadari bahwa banyak anak muda dari generasi tersebut memiliki ketertarikan tinggi pada tren belanja barang bekas serta keberlanjutan, namun terkendala kurangnya keterampilan dasar menjahit.
Melalui program bertajuk Wear Longer, para karyawan melatih remaja selama 90 menit untuk menguasai empat keterampilan dasar meliputi memasang kancing, merapikan kelim, menambal lubang, serta memperbaiki robekan. Langkah ekspansi yang dilakukan oleh perusahaan asal San Francisco ini melengkapi layanan modifikasi dan reparasi yang sebelumnya telah tersedia di ratusan gerai mereka di berbagai belahan dunia. Menurut Paul Dillinger selaku Kepala Inovasi Desain Global Levi's, pemberdayaan konsumen melalui kepemilikan keterampilan merawat pakaian merupakan kunci penting untuk memperpanjang siklus hidup produk tersebut.
Pergeseran tren dari kebutuhan ekonomi tradisional menuju metode pemasaran strategis ini tidak terjadi dalam waktu singkat. Industri fesyen menghadapi sorotan tajam terkait kontribusinya terhadap polusi lingkungan. Berdasarkan data dari lembaga nirlaba Ellen MacArthur Foundation, produksi pakaian secara global meningkat hingga dua kali lipat dalam kurun waktu antara tahun 2000 hingga 2015, sementara rata-rata frekuensi penggunaan setiap pakaian justru merosot sebesar 36 persen. Selain itu, kurang dari satu persen material pakaian bekas yang dibuang berhasil didaur ulang menjadi pakaian baru.
Di sisi lain, Generasi Z yang lahir di antara tahun 1997 hingga 2012 tumbuh di tengah era fesyen cepat dan perdagangan elektronik, serta menghadapi masa-masa sekolah dan awal dewasa yang dipengaruhi oleh pandemi beserta inflasi pascapandemi. Faktor keterbatasan anggaran serta pergeseran pandangan terhadap materialisme membuat kelompok usia ini menggerakkan pertumbuhan pasar pakaian pakaian bekas jauh melampaui pertumbuhan penjualan ritel konvensional, sebagaimana diestimasi oleh firma riset GlobalData.
Kendati demikian, tantangan terbesar bagi industri ritel saat ini adalah mewujudkan layanan perbaikan agar dapat bertransformasi dari sekadar layanan ceruk menjadi model bisnis yang berkelanjutan secara komersial. Grup H&M asal Swedia menyoroti hambatan ekonomi dalam praktik ini, di mana biaya produksi pakaian baru sering kali lebih murah dibandingkan upaya mempertahankan masa pakai produk lama yang padat karya. Agar diminati pelanggan, layanan perbaikan harus dipatok dengan harga terjangkau meskipun proses pengerjaannya membutuhkan tenaga kerja yang tidak sedikit.