Di tengah deru mesin pabrik yang bekerja siang dan malam, industri pakaian jadi di Vietnam tengah merayakan pencapaian gemilang. Berdasarkan data terbaru, performa ekspor tekstil dan garmen negara tersebut menunjukkan grafik menanjak yang sangat mengesankan. Pada Juli 2026, nilai omzet ekspor tekstil dan garmen diperkirakan menyentuh angka 4,67 miliar dolar AS. Angka ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,2 persen dibandingkan bulan Juni dan naik 4,3 persen jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Sementara itu, khusus untuk komoditas garmen saja, estimasi ekspor pada Juli mencapai 3,73 miliar dolar AS.
Akumulasi kinerja dari awal tahun hingga bulan ketujuh menunjukkan angka yang tidak kalah fantastis, di mana total ekspor melesat hingga kisaran 27,02 miliar dolar AS. Angka tersebut membuktikan bahwa Vietnam tetap kokoh sebagai salah satu pusat pasokan global utama untuk industri pakaian jadi. Berbagai pesanan dari merek-merek internasional terus berdatangan, memperkuat posisi strategis negara di kawasan Asia Tenggara. Namun, di balik kemilau angka pertumbuhan ekspor dan deretan kontrak yang menumpuk, sebuah pertanyaan mendasar mulai menghantui para pelaku industri di lapangan: siapa yang sebenarnya akan menjahit dan memproduksi semua pesanan tersebut?
Masalah krusial yang kini dihadapi sektor garmen Vietnam berakar dari kelangkaan tenaga kerja yang semakin mengkhawatirkan. Laporan media setempat mengungkapkan bahwa industri garmen serta sektor perikanan kini kesulitan mempertahankan pekerja di lantai pabrik, meskipun perusahaan-perusahaan telah menaikkan upah dan menawarkan berbagai insentif. Situasi ini diperparah oleh kebijakan pemerintah yang gencar mendorong program penempatan tenaga kerja ke luar negeri untuk mencari peluang hidup yang lebih baik. Setiap tahunnya, diperkirakan ada sekitar 130.000 hingga 150.000 warga Vietnam yang meninggalkan tanah air untuk bekerja di luar negeri, dengan destinasi populer seperti Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Singapura, hingga kawasan Eropa. Hingga akhir tahun lalu, total pekerja migran Vietnam di luar negeri bahkan telah mendekati angka 900.000 orang.
Tidak hanya harus bersaing dengan pasar tenaga kerja internasional, pabrik-pabrik garmen domestik juga dihadapkan pada persaingan internal yang sangat sengit dari sektor industri lain. Perusahaan-perusahaan di bidang manufaktur elektronik dan permesinan kini berlomba-lomba merebut kelompok tenaga kerja yang sama dengan menawarkan kompensasi yang kompetitif. Asosiasi Tekstil dan Garmen Vietnam (Vitas) secara terbuka menggambarkan persaingan tenaga kerja ini sebagai situasi yang "semakin sengit". Para petinggi asosiasi bahkan telah mengeluarkan peringatan keras dalam sebuah konferensi industri bahwa banyak pabrik garmen kini kekurangan pasokan manusia yang memadai untuk sekadar memenuhi tenggat waktu pengiriman pesanan, apalagi mengambil kontrak baru.
Meskipun pemerintah dan pelaku usaha telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memperkuat posisi Vietnam sebagai pusat manufaktur global yang efisien dan terdiversifikasi, seluruh fondasi tersebut terancam goyah jika lantai pabrik kehilangan tangan-tangan pekerjanya. Tanpa adanya solusi cepat untuk menutup kesenjangan tenaga kerja ini, ancaman kekurangan sumber daya manusia dikhawatirkan akan menjadi benang pengurai yang meruntuhkan kisah sukses pertumbuhan ekonomi Vietnam.