Pemerintah Bangladesh kini terjebak dalam pusaran konflik kepentingan antara dua pilar utama industrinya: produsen benang (spinners) dan eksportir garmen siap pakai (RMG). Ketegangan memuncak setelah Kementerian Perdagangan merekomendasikan pencabutan fasilitas impor bebas bea untuk jenis benang tertentu, sebuah langkah yang disambut sorak sorai oleh pabrik pemintalan lokal namun memicu protes keras dari para pengusaha garmen. Inti masalahnya terletak pada benang count 10 hingga 30—ukuran ketebalan menengah yang menjadi bahan baku utama produk rajutan (knitwear) ekspor Bangladesh.

Industri tekstil dan pakaian jadi Vietnam kini tengah menikmati momentum emas, mengukuhkan posisinya sebagai pemain kunci dalam peta perdagangan global. Dengan dukungan penuh pemerintah dan keterlibatan internasional yang semakin intens, sektor ini bukan lagi sekadar pusat manufaktur biaya rendah, melainkan telah bertransformasi menjadi pusat inovasi yang mengutamakan keberlanjutan. Performa impresif ini tercermin dalam data ekspor lima bulan pertama tahun 2025, di mana ekspor tekstil dan garmen Vietnam melonjak 9 persen mencapai angka 17,58 miliar dolar AS. Pertumbuhan ini menjadi fondasi kuat saat industri bersiap menyambut gelaran akbar Vietnam International Trade Fair for Apparel, Textiles, and Textile Technologies (VIATT 2026) pada akhir Februari mendatang di Ho Chi Minh City.

Pemerintah Tiongkok secara resmi mengumumkan kebijakan penyesuaian tarif impor yang mulai berlaku pada Januari 2026, sebuah langkah yang dirancang untuk memperkuat rantai pasok manufaktur domestik di tengah ketidakpastian ekonomi global. Berdasarkan pengumuman dari Dewan Negara, kebijakan ini akan memberlakukan tarif impor yang lebih rendah bagi segmen strategis dalam rantai nilai tekstil. Namun, berbeda dengan ekspektasi pasar konsumen, insentif ini hanya menyasar sektor hulu dan produk antara seperti serat sintetis, benang filamen kimia, serta input tekstil fungsional, sementara produk pakaian jadi tetap dikenakan tarif normal.

Industri pakaian jadi global tengah menyaksikan pergeseran kekuatan yang dramatis pada awal tahun 2026. Meskipun Bangladesh secara angka agregat masih memegang predikat sebagai eksportir pakaian jadi terbesar kedua di dunia dengan nilai ekspor mencapai $38,48 miliar pada tahun 2024, sebuah realitas pahit mulai terkuak: Vietnam kini secara strategis mendikte masa depan mode global, sementara Bangladesh terjebak dalam model kompetisi lama yang kian rapuh.

Industri ekspor Bangladesh menghadapi tahun yang penuh tantangan pada 2025 dengan mencatatkan penurunan ekspor barang dagangan sebesar hampir 5 persen. Berdasarkan data resmi dari Export Promotion Bureau (EPB), nilai ekspor negara tersebut turun menjadi 47,74 miliar USD dibandingkan tahun sebelumnya. Lemahnya permintaan global untuk produk garmen dan barang konsumsi lainnya menjadi faktor utama yang menekan pengiriman, di tengah ketegangan geopolitik akibat perang Rusia-Ukraina dan konflik di Timur Tengah yang mengganggu rute perdagangan serta rantai pasok global.