Sektor tekstil dan garmen Vietnam kembali memperlihatkan performa yang solid di kancah perdagangan internasional pada pertengahan tahun 2026 ini. Berdasarkan laporan terbaru dari Departemen Teknologi Informasi dan Statistik Pabean di bawah Kementerian Keuangan, total pengiriman produk tekstil dan pakaian jadi—di luar kategori benang serta serat—berhasil membukukan angka 22,863 miliar dolar AS terhitung sejak Januari hingga Juli 2026. Perolehan tersebut merefleksikan tren kenaikan tipis sebesar 1,1 persen jika dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Sektor ekspor pakaian jadi Sri Lanka berhasil mencatatkan nilai pengiriman sebesar 2,26 miliar dolar AS sepanjang semester pertama tahun fiskal 2026. Capaian ini diiringi oleh kontraksi tahun-ke-tahun sebesar 5,8 persen akibat fluktuasi permintaan di pasar Amerika Serikat dan Uni Eropa yang memberikan tekanan nyata terhadap volume pesanan. Kendati menghadapi tantangan besar pada volume utama tersebut, pengiriman ke pasar Inggris justru menunjukkan ketahanan yang kuat. Kondisi ini didukung oleh aturan skema perdagangan negara berkembang atau Developing Countries Trading Scheme (DCTS) yang direvisi, di mana aturan baru tersebut memberikan kemudahan bagi produsen untuk menikmati akses pasar bebas bea dengan memanfaatkan sumber kain global yang lebih fleksibel.

Kamboja kini tengah menavigasi periode ekonomi yang lebih sulit di sepanjang tahun 2026. Berdasarkan laporan tahunan ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO), ekonomi Kamboja diproyeksikan akan mengalami moderasi pertumbuhan ke angka 4,2 persen, setelah sebelumnya mencatatkan performa yang cukup kuat dengan ekspansi 5,3 persen pada tahun 2025. Meski menghadapi berbagai guncangan eksternal dan domestik, sektor manufaktur, khususnya ekspor garmen, terbukti tetap menjadi mesin pertumbuhan yang tangguh bagi negara tersebut. Ketahanan ini menjadi fondasi penting di tengah tekanan yang datang dari kenaikan biaya energi global, hambatan logistik di perbatasan, hingga tantangan kepercayaan di sektor keuangan.

Korea Selatan mencatatkan pertumbuhan positif pada sektor impor pakaian jadi selama paruh pertama tahun 2026, menandakan kuatnya dinamika pasar domestik di tengah tantangan ekonomi global. Berdasarkan data terbaru dari Trademap, total nilai impor pakaian negara tersebut mengalami peningkatan sebesar 2,27 persen menjadi 5,658 miliar dolar AS pada periode Januari hingga Juni 2026. Angka ini tercatat lebih tinggi jika dibandingkan dengan realisasi pada periode yang sama di tahun 2025, yakni sebesar 5,531 miliar dolar AS. Menariknya, laju pengiriman ini menunjukkan lonjakan pertumbuhan yang jauh lebih signifikan memasuki pertengahan tahun.

Sektor perdagangan tekstil dan garmen Jepang menunjukkan performa yang sangat tangguh sepanjang paruh pertama tahun 2026. Berdasarkan data sementara yang dirilis oleh Kementerian Keuangan Jepang, impor pakaian jadi dan aksesori negara tersebut tercatat mengalami kenaikan sebesar 6,0 persen secara year-on-year (YoY) mencapai 1.913.156 juta yen atau setara dengan $11,728 miliar.