Geopolitik perdagangan tekstil di Asia Selatan tengah mengalami pergeseran drastis seiring langkah berani pemerintah transisi Bangladesh untuk mengalihkan sumber bahan baku kapasnya. Dalam sebuah pengumuman bersejarah pasca penandatanganan perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat pada awal Februari 2026, Bangladesh secara resmi berencana mengganti impor kapas dari India dengan kapas produksi Negeri Paman Sam. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bagian dari strategi "pembalik keadaan" untuk mengamankan posisi Bangladesh di pasar pakaian jadi dunia.

Penasihat Informasi untuk Kepala Penasihat Mohammed Yunus, Shafiqul Alam, menyebut kesepakatan ini sebagai peluang emas bagi sektor tekstil nasional. Dalam skema perdagangan baru tersebut, Bangladesh sebenarnya telah mendapatkan tarif sebesar 19 persen—angka yang cukup kompetitif dibandingkan rival regional seperti Indonesia atau Kamboja. Namun, terdapat klausul istimewa yang menjadi daya tarik utama: Amerika Serikat setuju untuk memangkas tarif ekspor hingga nol persen jika produsen tekstil Bangladesh beralih menggunakan kapas atau serat buatan (manmade fibre) asal AS. "Ini adalah dorongan besar. Dengan beralih ke kapas AS, produk kita bisa masuk ke pasar mereka tanpa beban tarif sama sekali," ungkap Alam dalam sebuah wawancara eksklusif.

Langkah ini sekaligus menandai titik balik hubungan dagang Bangladesh dengan India yang sempat memanas. Pada pertengahan 2025, kedua negara sempat terlibat dalam aksi saling balas pembatasan perdagangan di pelabuhan darat, yang berdampak pada ekspor benang kapas India senilai miliaran dolar. Kini, dengan mengandalkan AS sebagai pemasok utama, Bangladesh berupaya melepaskan diri dari ketergantungan pada pemasok tradisional di Asia Tengah dan India. Keuntungan posisi Bangladesh juga terletak pada tidak adanya lobi petani kapas domestik, sehingga pemerintah memiliki kebebasan penuh dalam menegosiasikan sumber impor tanpa tekanan politik internal.

Meski demikian, para pakar ekonomi memberikan catatan kritis terhadap langkah besar ini. Profesor Selim Jehan dari Universitas BRAC di Dhaka mengingatkan bahwa meskipun tarif nol persen sangat menggiurkan, ada faktor biaya lain yang harus diperhitungkan dengan cermat. "Kita harus menghitung total biaya, mulai dari harga kapas AS hingga biaya pengiriman dan logistik yang jauh lebih mahal dibandingkan impor dari negara tetangga. Jika total biayanya tetap tinggi, maka keuntungan dari tarif nol persen bisa menguap," jelasnya. Selain itu, Jehan menekankan pentingnya menjaga kualitas bahan baku agar tetap setara dengan kapas dari India atau Mesir, karena pembeli di AS tetap akan menuntut kualitas produk akhir yang tinggi.

Kini, perhatian industri mode global tertuju pada bagaimana para raksasa tekstil Bangladesh akan mengeksekusi transisi ini. Jika berhasil, Bangladesh tidak hanya akan mengamankan posisinya sebagai eksportir pakaian utama ke Amerika Serikat, tetapi juga akan mengubah peta rantai pasok kapas dunia secara permanen. Namun, tantangan logistik dan konsistensi kualitas bahan baku dari AS akan menjadi ujian nyata bagi ambisi Bangladesh untuk mendominasi pasar tekstil global tanpa bayang-bayang tarif.