Sektor tekstil dan garmen Mesir kini tengah berada di ambang transformasi besar yang diprediksi akan mengubah peta industri pakaian dunia. Dewan Ekspor Pakaian Jadi Mesir (AECE) secara resmi menetapkan target ambisius untuk mencapai nilai ekspor sebesar 4,4 miliar dolar AS pada tahun 2026. Target ini mencerminkan lonjakan signifikan sebesar 22 persen dibandingkan proyeksi tahun 2025 yang diperkirakan melampaui angka 3 miliar dolar AS untuk pertama kalinya dalam sejarah negara tersebut.
Optimisme ini bukan tanpa alasan. Mesir kini tengah menikmati gelombang investasi asing yang masif, terutama dari raksasa industri asal Tiongkok dan Turki. Fokus utama dari ekspansi ini terletak di Zona Ekonomi Terusan Suez, khususnya di pusat pertumbuhan West Qantara. Di wilayah strategis ini, kompleks tekstil dan pakaian terintegrasi sedang dibangun dengan kecepatan tinggi. Proyek-proyek mercusuar seperti investasi senilai 100 juta dolar AS dari Zhejiang Jasan dan pabrik berorientasi ekspor milik Everfar Textile senilai 130 juta dolar AS menjadi mesin utama yang akan menggerakkan kapasitas produksi nasional.
Ketua AECE, Fadel Marzouk, menegaskan bahwa pencapaian rekor di tahun 2025 sebagian besar didorong oleh perluasan pabrik-pabrik lokal yang sudah ada. Namun, untuk melompat ke angka 4,4 miliar dolar AS, keterlibatan investor global menjadi kunci krusial. "Target pertumbuhan 22 persen ini memerlukan sinergi antara peningkatan kapasitas lokal dan operasionalnya fasilitas manufaktur baru yang lebih modern dan terintegrasi," ungkap Marzouk dalam sebuah pernyataan strategisnya. Ia meyakini bahwa kehadiran perusahaan-perusahaan internasional akan memperkuat rantai pasok dari hulu ke hilir.
Selain Zhejiang Jasan dan Everfar, daftar investor yang berkomitmen memperkuat industri Mesir terus bertambah, termasuk Changzhou Kingcason, Shanghai Honour Home Textile, serta dua perusahaan tekstil terkemuka asal Turki, Orağlu dan Boni. Kehadiran investor Turki ini sangat krusial mengingat keahlian mereka dalam desain dan akses pasar ke Eropa, sementara investor Tiongkok membawa keunggulan dalam teknologi produksi massal dan efisiensi biaya.
Langkah berani ini merupakan bagian dari visi jangka panjang pemerintah Kairo yang lebih luas. Mesir tidak hanya berhenti di angka 4 miliar dolar AS, melainkan menargetkan total ekspor tekstil tahunan mencapai 11,5 miliar dolar AS pada tahun 2030. Dengan memanfaatkan lokasi geografis yang strategis di pintu gerbang perdagangan dunia serta ketersediaan bahan baku kapas berkualitas tinggi yang dikenal sebagai "Emas Putih," Mesir kini memposisikan dirinya sebagai hub manufaktur tekstil utama yang mampu menyaingi dominasi negara-negara Asia Tenggara dan Asia Selatan di pasar global. Pertumbuhan ini diharapkan tidak hanya mendatangkan devisa, tetapi juga menciptakan ribuan lapangan kerja baru bagi masyarakat Mesir.