Pasar komoditas global kembali diguncang sentimen negatif yang memaksa harga kapas berjangka di bursa ICE jatuh ke titik terendah baru. Dalam sesi perdagangan terakhir, serat alami ini gagal mempertahankan posisinya dan terseret oleh aksi jual massal yang melanda pasar logam mulia serta penguatan signifikan mata uang dolar Amerika Serikat. Kontrak kapas paling aktif untuk pengiriman Maret ditutup merosot ke level 62,67 sen per pon, sementara kontrak Mei 2026 juga berakhir di zona merah pada angka 64,40 sen per pon. Pelemahan ini mencerminkan kerapuhan fundamental kapas yang kini praktis hanya mengekor pada pergerakan makroekonomi global.
Faktor utama yang memicu rontoknya harga adalah dominasi dolar AS yang kian tak terbendung terhadap mata uang utama dunia lainnya. Penguatan greenback ini secara otomatis membuat kapas asal Amerika menjadi jauh lebih mahal bagi pembeli internasional, sehingga memukul daya saing ekspor. Sentimen bullish terhadap dolar semakin diperkuat oleh nominasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve berikutnya, yang memicu ekspektasi pasar akan kebijakan moneter yang lebih ketat di masa depan. Di sisi lain, pasar logam seperti emas dan perak juga mengalami aksi jual tajam setelah adanya peningkatan persyaratan margin oleh CME, yang memicu penghindaran risiko (risk aversion) secara luas di seluruh pasar komoditas, termasuk menyeret komoditas pertanian seperti kedelai, gandum, dan jagung di bursa CBOT.
Tekanan bagi kapas tidak berhenti di situ; sektor energi pun turut menyumbang sentimen negatif. Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari $3 setelah Presiden Trump menyatakan bahwa Iran tengah berada dalam "pembicaraan serius" dengan Washington, sebuah kabar yang mendinginkan ketegangan geopolitik. Penurunan harga minyak ini menjadi ancaman serius bagi industri tekstil karena berpotensi menurunkan biaya produksi poliester. "Kapas saat ini kehilangan dukungan fundamentalnya sendiri dan terseret oleh kejatuhan harga logam dan minyak. Saat harga minyak turun, poliester menjadi pesaing yang jauh lebih murah di pasar," ungkap seorang analis pasar yang mengamati pergerakan volume perdagangan yang mencapai angka masif 94.564 kontrak.
Meskipun manufaktur AS menunjukkan pertumbuhan positif pada Januari di tengah beban tarif bahan baku, hal tersebut justru memberikan amunisi tambahan bagi penguatan dolar, yang ironisnya terus menekan harga komoditas. Dengan jumlah posisi terbuka (open interest) yang mencatatkan rekor tertinggi selama 14 hari berturut-turut, terlihat jelas adanya akumulasi posisi jual baru oleh para spekulan. Di saat pasar ekuitas AS merangkak naik menuju rekor tertinggi, aliran modal tampaknya sedang bergeser menjauh dari komoditas fisik, meninggalkan kapas dalam posisi yang rentan terhadap gejolak pasar keuangan global.