Sektor perdagangan tekstil dan garmen Jepang menunjukkan performa yang sangat tangguh sepanjang paruh pertama tahun 2026. Berdasarkan data sementara yang dirilis oleh Kementerian Keuangan Jepang, impor pakaian jadi dan aksesori negara tersebut tercatat mengalami kenaikan sebesar 6,0 persen secara year-on-year (YoY) mencapai 1.913.156 juta yen atau setara dengan $11,728 miliar.

Industri pakaian dan manufaktur tekstil global saat ini tengah mengubah strategi pengadaan mereka secara besar-besaran, beralih dari serat komoditas tradisional menuju material yang ramah lingkungan, bersertifikasi, serta memiliki ketahanan tinggi. Perubahan struktural ini terjadi seiring dengan pengetatan regulasi internasional, terutama Regulasi Desain Ekologis untuk Produk Berkelanjutan (ESPR) dari Uni Eropa, yang mewajibkan ketertelusuran material yang ketat serta batasan konten daur ulang pada produk tekstil impor.

Industri pakaian jadi Sri Lanka kini berada di ambang transformasi besar setelah Presiden Anura Kumara Dissanayake secara resmi menjanjikan dukungan kebijakan yang lebih agresif. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis pemerintah untuk menggenjot perolehan devisa dolar dan memperkuat posisi negara di pasar global. Pertemuan tingkat tinggi antara pemerintah dan para pemimpin bisnis baru-baru ini di Sekretariat Presiden menjadi titik balik yang krusial, di mana kedua belah pihak berupaya keras mengubah strategi ekspor nasional menjadi mesin pertumbuhan yang nyata, bukan sekadar dokumen kebijakan di atas kertas.

Sektor tekstil dan garmen Bangladesh tengah mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah-langkah strategis guna menyelamatkan industri orientasi ekspor dari tekanan krisis. Dalam pertemuan penting dengan Perdana Menteri Tarique Rahman di kantor sekretariat Dhaka, delegasi Asosiasi Pemilik Pabrik Tekstil Bangladesh (BTMA) yang dipimpin oleh Presiden Showkat Aziz Russell meminta pemerintah agar memperkenalkan skema pembiayaan kembali khusus untuk pinjaman yang sudah ada dengan suku bunga maksimal 5 persen.

Industri tekstil dan pakaian jadi di Thailand tengah mengalami pergeseran struktural yang signifikan selama kuartal pertama tahun 2026. Berdasarkan data dari alat intelijen sumber TexPro, total nilai impor tekstil negara tersebut tercatat mengalami penurunan sebesar 7,1 persen secara tahunan, yakni menjadi 562,56 juta dolar AS dibandingkan dengan 605,47 juta dolar AS pada periode yang sama di tahun 2025. Meskipun volume impor secara keseluruhan menurun, komposisi bahan yang didatangkan justru menunjukkan perubahan pola yang cukup mencolok, di mana ketergantungan terhadap bahan baku tekstil olahan atau kain justru mengalami peningkatan.