Industri garmen Sri Lanka, yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung ekonomi negara kepulauan tersebut, kini tengah menghadapi tantangan berat pada awal tahun 2026. Berdasarkan laporan terbaru bertajuk ‘External Sector Performance – March 2026’ yang dirilis oleh Bank Sentral Sri Lanka, nilai ekspor pakaian jadi mengalami penurunan signifikan sebesar 8,2 persen pada kuartal pertama tahun ini. Angka tersebut merosot menjadi $1,17 miliar dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sempat menyentuh angka $1,28 miliar.

Industri tekstil rumah tangga Bangladesh mengawali tahun 2026 dengan guncangan hebat setelah mencatatkan kontraksi ekspor yang sangat tajam pada kuartal pertama. Berdasarkan data terbaru dari alat intelijen pencarian, nilai ekspor sektor ini terjun bebas sebesar 47,8 persen secara tahunan menjadi hanya $170,52 juta pada periode Januari hingga Maret 2026. Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang masih mampu meraup $326,43 juta, mencerminkan melemahnya permintaan secara masif di pasar-pasar utama dunia, terutama Amerika Serikat dan Eropa.

Sektor garmen Bangladesh kini tengah bersiap melakukan lompatan besar untuk memperkuat dominasinya di pasar global. Melalui langkah diplomasi ekonomi yang agresif, delegasi tingkat tinggi dari Asosiasi Produsen dan Eksportir Garmen Bangladesh (BGMEA) dijadwalkan segera bertolak ke Ankara, Turki. Kunjungan ini bukan sekadar kunjungan kerja biasa, melainkan sebuah misi strategis untuk membuka babak baru dalam industri tekstil dan pakaian jadi kedua negara yang diharapkan dapat mengubah peta kompetisi dunia.

Industri tekstil Pakistan, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional, kini tengah menghadapi badai ketidakseimbangan struktural yang mengancam keberlangsungannya. Berdasarkan data terbaru dari Biro Statistik Pakistan (PBS) untuk sembilan bulan pertama tahun fiskal 2025–2026 (9MFY26), sektor ini mencatatkan kontribusi sebesar US$ 13,54 miliar bagi devisa negara. Namun, angka tersebut tidak mampu menutupi fakta pahit adanya penurunan tajam sebesar 7,27 persen pada total ekspor barang dagangan secara tahunan. Pukulan paling telak terasa pada Februari 2026, di mana pengiriman tekstil anjlok hingga 25,43 persen dibandingkan bulan sebelumnya, menyisakan nilai ekspor hanya sebesar US$ 1,3 miliar.

Pemerintah Vietnam secara resmi telah mengambil langkah besar dalam memperkokoh basis industrinya melalui persetujuan kebijakan strategis untuk Rancangan Undang-Undang (RUU) Industri Kunci. Langkah ini dikukuhkan melalui Resolusi No. 82/NQ-CP yang diterbitkan pada 3 April 2026, yang menandai pergeseran fundamental dalam peta jalan industrialisasi negara tersebut. Dengan target ambisius untuk mencapai status negara berpenghasilan tinggi, Vietnam kini tidak lagi hanya ingin menjadi pusat perakitan global, melainkan sedang membangun ekonomi yang tangguh dan didorong oleh teknologi tinggi serta inovasi.