Industri benang tekstil dunia tengah bersiap menghadapi lonjakan nilai pasar yang signifikan, dengan proyeksi pertumbuhan dari $82,4 miliar pada tahun 2025 menjadi $127,4 miliar pada tahun 2034. Lonjakan ini bukan sekadar pertumbuhan angka, melainkan tanda adanya pergeseran struktural besar-besaran dari fokus volume produksi massal menuju serat teknis yang berkinerja tinggi dan terverifikasi keberlanjutannya. Di awal tahun 2026 ini, industri mulai meninggalkan model lama demi memenuhi tuntutan pasar yang semakin peduli terhadap jejak lingkungan.

Kawasan Asia-Pasifik masih memegang kendali utama dengan pangsa pasar mencapai 63,5 persen. Namun, dinamika di wilayah ini telah berubah; poliester daur ulang dan selulosa berbasis bio kini bukan lagi produk pelengkap, melainkan komponen inti yang wajib dimiliki oleh merek mana pun yang ingin memenuhi target ESG ketat serta mandat keterlacakan Uni Eropa yang baru. Industri kini tidak lagi hanya mengejar kuantitas, melainkan kualitas fungsional yang mampu menjawab kebutuhan konsumen modern yang kritis.

Pengamat industri mencatat bahwa integrasi teknologi air-jet spinning dan pemantauan digital otomatis telah menjadi penyelamat bagi para produsen di tengah fluktuasi harga bahan baku. Teknologi ini mampu meningkatkan keseragaman benang sekaligus memangkas biaya energi secara signifikan. Sementara itu, di Timur Tengah dan Afrika, proyeksi pertumbuhan sebesar 6,7 persen mencerminkan poros strategis menuju industrialisasi non-minyak, dengan Turki memposisikan diri sebagai pusat utama untuk kapas berkualitas tinggi dan campuran benang khusus.

Di sisi lain, pasar Amerika Utara dan Eropa memilih jalur yang lebih spesifik dengan memprioritaskan tekstil teknis bernilai tinggi untuk aplikasi medis dan otomotif. Perubahan lanskap global ini memberikan peluang emas bagi manufaktur untuk mengadopsi model sirkular, yakni mengubah limbah pascakonsumsi menjadi benang dengan kekuatan tinggi (high-tenacity). Langkah ini sejalan dengan preferensi kelompok 'prosumer' yang menginginkan pakaian dengan masa pakai lebih lama dan akuntabilitas lingkungan yang nyata.

Sebagaimana dinyatakan dalam laporan Global Textile Insights, sektor ini tengah meningkatkan kapasitas produksi benang daur ulang secara masif demi mencapai target pertumbuhan 2034. Inovasi teknologi bukan lagi sekadar alat untuk efisiensi, melainkan benteng pertahanan utama dalam menghadapi volatilitas harga bahan mentah global. Dengan menggabungkan kemajuan digital dan tanggung jawab ekologis, industri benang tekstil sedang merajut masa depan di mana ekonomi dan ekologi dapat tumbuh berdampingan secara harmonis.