Sektor industri garmen di Bangladesh tengah menghadapi masa-masa kelam seiring dengan gelombang penutupan pabrik yang terus berlanjut. Terbaru, pabrik Unique Designers dan Unique Washing & Dyeing yang berlokasi di Gazipur secara resmi mengumumkan penutupan permanen mereka. Keputusan ini berdampak pada setidaknya 1.800 pekerja yang kini harus kehilangan mata pencaharian. Meskipun pihak pemilik pabrik berkomitmen untuk melunasi seluruh upah dan hak hukum pekerja paling lambat 27 Juli, peristiwa ini hanyalah bagian dari fenomena yang lebih besar.
Bangladesh kini tengah membidik tonggak sejarah baru dalam industri mode global. Asosiasi Produsen dan Eksportir Garmen Bangladesh (BGMEA) mengungkapkan sebuah proyeksi optimis bahwa negara tersebut memiliki potensi nyata untuk mencapai nilai ekspor pakaian jadi sebesar 100 miliar dolar AS pada akhir tahun 2030. Angka yang fantastis ini dianggap bukan sekadar target formal di atas kertas, melainkan sebuah kemungkinan realistis mengingat permintaan global terhadap produk pakaian yang terus meningkat serta kondisi rantai pasokan dunia yang mulai kembali normal setelah berbagai guncangan.
Raksasa ritel asal Swedia, H&M, kembali menegaskan posisinya bahwa Bangladesh tetap menjadi pasar pengadaan pakaian yang sangat penting bagi perusahaan. Penegasan ini muncul sebagai respons atas spekulasi media yang menyebutkan adanya potensi pengurangan volume pesanan dari negara tersebut. Sebagai pembeli garmen terbesar di Bangladesh, H&M saat ini menyerap produk dari sekitar 300 pabrik lokal dengan nilai transaksi mencapai 5 miliar dolar AS per tahun. Meskipun H&M menolak membeberkan volume produksi atau pangsa pesanan per pasar karena alasan komersial, perusahaan menekankan bahwa kemitraan jangka panjang yang telah terjalin sejak awal 1980-an tetap menjadi fondasi utama kehadiran mereka di Bangladesh.
Industri tekstil dan pakaian jadi Vietnam kini menghadapi tantangan baru yang jauh melampaui sekadar masalah harga, kecepatan produksi, dan kapasitas manufaktur. Regulasi Digital Product Passport (DPP) dari Uni Eropa kini mengubah data produk menjadi syarat mutlak untuk akses pasar. Hal ini memberikan tekanan yang bersifat mendesak bagi Vietnam, mengingat negara tersebut memiliki nilai ekspor tekstil dan pakaian jadi mencapai US$ 53,33 miliar pada tahun 2025, dengan sektor pakaian jadi menyumbang sebesar US$ 43,57 miliar.
Meskipun tim nasional Bangladesh tidak berpartisipasi dalam putaran final Piala Dunia 2026, jejak negara tersebut tetap terasa kuat di panggung sepak bola paling bergengsi di dunia. Hal ini terbukti ketika tim nasional Cape Verde tampil dalam pertandingan debut Piala Dunia mereka melawan Spanyol di Atlanta, dengan mengenakan jersey yang diproduksi di Bangladesh. Jersey tersebut merupakan hasil produksi Garments Manufacturing and Assembling Ltd (GMA), sebuah pabrik yang berbasis di area Turag, Dhaka.
Page 3 of 13