Pasar tekstil dunia dikejutkan dengan pergerakan agresif India sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data terbaru dari alat intelijen sumber TexPro, India mencatatkan lonjakan impor kapas (HS Code 5201) yang sangat signifikan, dengan nilai impor mencapai 1.927,71 juta Dolar AS. Angka ini merepresentasikan kenaikan sebesar 92,50 persen dibandingkan tahun 2024 yang hanya berada di angka 1.001,39 juta Dolar AS. Namun, kejutan sebenarnya terletak pada volume fisik kapas yang didatangkan ke Negeri Anak Benua tersebut; jumlahnya meroket hingga 130 persen, menyentuh angka 1.036,04 juta kg dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 451,42 juta kg. Fenomena ini menandakan bahwa India tengah melakukan aksi pengadaan besar-besaran, melampaui rekor impor tahun 2022.

Sektor tekstil dan pakaian jadi Sri Lanka baru saja menandai tonggak sejarah baru dalam upaya modernisasi industri nasional. Sebuah kompleks pelatihan serbaguna yang megah secara resmi dibuka di Sri Lanka Institute of Textile & Apparel (SLITA), Ratmalana. Fasilitas ini bukan sekadar bangunan baru, melainkan simbol ambisi besar negara tersebut untuk mencetak tenaga kerja profesional yang mampu bersaing di panggung global. Dengan total investasi mencapai 520 juta Rupee Sri Lanka atau setara dengan kurang lebih 1,66 juta Dolar AS, proyek ini menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah dalam memperkuat tulang punggung ekonomi negara melalui jalur pendidikan dan pelatihan teknis.

Industri garmen siap pakai (RMG) Bangladesh, yang selama dekade terakhir menjadi simbol keajaiban ekonomi Asia Selatan, kini tengah berada di persimpangan jalan yang mencemaskan. Setelah bertahun-tahun mencatatkan pertumbuhan yang konsisten, sektor yang menyumbang lebih dari 84 persen pendapatan ekspor negara tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda kontraksi yang mengkhawatirkan. Data terbaru dari Biro Promosi Ekspor mengungkapkan penurunan ekspor barang dagangan total sebesar 3,15 persen selama delapan bulan pertama tahun fiskal 2026, sebuah sinyal merah bagi ekonomi nasional yang bergantung pada keringat 4,5 juta buruhnya.

Maret dan April biasanya menjadi periode emas yang dikenal sebagai "Maret Emas, April Perak" bagi industri tekstil global. Namun, tahun 2026 menghadirkan anomali yang mencemaskan bagi para produsen kain di China. Alih-alih merayakan puncak pesanan, banyak pabrik tenun justru mulai mengambil langkah langka dengan memangkas produksi hingga melakukan penutupan operasional sementara akibat volatilitas harga bahan baku yang tidak terkendali.

India kembali mengguncang pasar tekstil dunia dengan mencatatkan lonjakan impor kapas yang luar biasa sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data terbaru dari alat intelijen sumber daya TexPro, nilai impor kapas India meroket hingga 92,50 persen menjadi 1.927,716 juta dolar AS. Namun, angka yang lebih mencengangkan terlihat pada volume impor yang melambung sebesar 130 persen, mencapai 1.036,041 juta kg dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sebesar 451,424 juta kg. Kenaikan masif ini menandai pergeseran strategi industri tekstil India yang mulai memanfaatkan penurunan harga komoditas global untuk memperkuat stok bahan baku nasional.