Kementerian Tekstil India baru saja menyambut fajar baru bagi industri manufaktur dalam negeri menyusul kesepakatan dagang bersejarah dengan Amerika Serikat (AS). Perjanjian ini dipandang sebagai katalisator utama yang tidak hanya mempererat hubungan bilateral, tetapi juga menjadi economic game changer yang telah lama dinantikan oleh para pelaku usaha. Dengan terbukanya akses ke pasar impor global AS yang bernilai fantastis sebesar 118 miliar dolar AS, India kini berada di posisi terdepan untuk mengonversi peluang menjadi pertumbuhan ekonomi riil yang masif.
Hong Kong menutup tirai tahun 2025 dengan sebuah anomali yang membingungkan para pelaku industri ritel. Di tengah gemerlap lampu kota dan kedatangan 49,9 juta wisatawan sepanjang tahun—melonjak 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya—sektor fesyen justru harus menelan pil pahit. Berdasarkan data terbaru, penjualan pakaian di kota pelabuhan ini merosot tajam sebesar 10,3 persen secara tahunan (Y-o-Y) pada bulan Desember, meskipun secara keseluruhan total nilai penjualan ritel kota meningkat 6,6 persen menjadi $35 miliar.
Industri tekstil dan garmen Vietnam tengah menatap cakrawala baru dengan ambisi besar di tahun 2026. Setelah mencatatkan rekor ekspor senilai 46 miliar dolar AS pada tahun 2025, sektor andalan Negeri Naga Biru ini kini mematok target ambisius sebesar 50 miliar dolar AS untuk tahun mendatang. Langkah ini menjadi bagian dari visi besar Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam yang menargetkan tambahan nilai ekspor nasional hingga 38 miliar dolar AS, menyusul capaian bersejarah total ekspor negara sebesar 475 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya.
Industri tekstil Bangladesh, yang merupakan tulang punggung ekonomi negara tersebut, kini berada dalam fase kritis yang mengancam stabilitas pasar mode global. Ketegangan memuncak ketika Bangladesh Textile Mills Association (BTMA) mengeluarkan ultimatum keras untuk menghentikan operasional seluruh pabrik pemintalan secara tanpa batas waktu mulai Februari 2026. Ancaman ini muncul sebagai protes atas ketidakmampuan produsen lokal bersaing dengan serbuan benang impor bebas bea—terutama dari India—di tengah beban utang bank yang mencekik dan krisis energi yang tak kunjung usai.
Pemerintah Bangladesh kini terjebak dalam pusaran konflik kepentingan antara dua pilar utama industrinya: produsen benang (spinners) dan eksportir garmen siap pakai (RMG). Ketegangan memuncak setelah Kementerian Perdagangan merekomendasikan pencabutan fasilitas impor bebas bea untuk jenis benang tertentu, sebuah langkah yang disambut sorak sorai oleh pabrik pemintalan lokal namun memicu protes keras dari para pengusaha garmen. Inti masalahnya terletak pada benang count 10 hingga 30—ukuran ketebalan menengah yang menjadi bahan baku utama produk rajutan (knitwear) ekspor Bangladesh.
Page 3 of 5