Pasar mode dan tekstil di Negeri Kanguru menunjukkan anomali yang menarik sepanjang delapan bulan pertama tahun fiskal 2025-2026. Berdasarkan data terbaru dari Biro Statistik Australia (ABS), terjadi pergeseran tren di mana impor pakaian jadi mengalami penurunan, sementara permintaan terhadap bahan baku tekstil justru merangkak naik. Hingga Februari 2026, nilai impor pakaian jadi Australia terkoreksi sebesar 3,77 persen menjadi sekitar US$6,038 miliar. Penurunan ini kian terasa tajam pada performa bulanan Februari yang merosot hingga 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sebuah sinyal kuat adanya pengetatan pengeluaran rumah tangga di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Industri pakaian jadi (RMG) Bangladesh, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi negara tersebut, kini berada di bawah bayang-bayang ancaman pajak baru yang serius dari Uni Eropa. Sebuah studi terbaru dari Centre for Policy Dialogue (CPD) mengungkapkan bahwa ekspor garmen Bangladesh terancam dikenakan pajak karbon tambahan sebesar 4,8 persen mulai tahun 2030 jika industri tersebut gagal melakukan dekarbonisasi secara signifikan. Kebijakan ini merupakan bagian dari Mekanisme Penyesuaian Perbatasan Karbon (CBAM) yang diinisiasi Uni Eropa untuk menekan emisi gas rumah kaca di sepanjang rantai pasok global, di mana sektor tekstil diprediksi akan masuk dalam radar pengawasan ketat pada akhir dekade ini.
Pasar tekstil dunia dikejutkan dengan pergerakan agresif India sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data terbaru dari alat intelijen sumber TexPro, India mencatatkan lonjakan impor kapas (HS Code 5201) yang sangat signifikan, dengan nilai impor mencapai 1.927,71 juta Dolar AS. Angka ini merepresentasikan kenaikan sebesar 92,50 persen dibandingkan tahun 2024 yang hanya berada di angka 1.001,39 juta Dolar AS. Namun, kejutan sebenarnya terletak pada volume fisik kapas yang didatangkan ke Negeri Anak Benua tersebut; jumlahnya meroket hingga 130 persen, menyentuh angka 1.036,04 juta kg dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 451,42 juta kg. Fenomena ini menandakan bahwa India tengah melakukan aksi pengadaan besar-besaran, melampaui rekor impor tahun 2022.
Industri pakaian jadi Sri Lanka, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional, kini sedang berada di persimpangan jalan yang krusial. Berdasarkan data sementara pada kuartal pertama tahun 2026, sektor ini mencatatkan kontraksi ekspor sebesar 5,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini bukanlah tanpa alasan; mendinginnya sentimen konsumen di zona Euro dan Amerika Utara akibat tekanan inflasi tinggi serta suku bunga yang melonjak telah memukul daya beli di pasar-pasar utama tersebut. Mengingat lebih dari 80 persen ekspor garmen negara ini ditujukan ke Barat, guncangan ekonomi di belahan dunia tersebut langsung terasa hingga ke lantai pabrik di Kolombo dan sekitarnya.
Sektor tekstil dan pakaian jadi Sri Lanka baru saja menandai tonggak sejarah baru dalam upaya modernisasi industri nasional. Sebuah kompleks pelatihan serbaguna yang megah secara resmi dibuka di Sri Lanka Institute of Textile & Apparel (SLITA), Ratmalana. Fasilitas ini bukan sekadar bangunan baru, melainkan simbol ambisi besar negara tersebut untuk mencetak tenaga kerja profesional yang mampu bersaing di panggung global. Dengan total investasi mencapai 520 juta Rupee Sri Lanka atau setara dengan kurang lebih 1,66 juta Dolar AS, proyek ini menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah dalam memperkuat tulang punggung ekonomi negara melalui jalur pendidikan dan pelatihan teknis.
Page 3 of 10