Maret dan April biasanya menjadi periode emas yang dikenal sebagai "Maret Emas, April Perak" bagi industri tekstil global. Namun, tahun 2026 menghadirkan anomali yang mencemaskan bagi para produsen kain di China. Alih-alih merayakan puncak pesanan, banyak pabrik tenun justru mulai mengambil langkah langka dengan memangkas produksi hingga melakukan penutupan operasional sementara akibat volatilitas harga bahan baku yang tidak terkendali.

Ketegangan geopolitik di Asia Barat, khususnya aksi militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, serta penutupan Selat Hormuz, telah memicu lonjakan harga energi dan bahan kimia secara drastis sejak akhir Februari. Dampaknya terasa instan pada harga serat stapel poliester dan benang filamen yang mengalami fluktuasi ekstrem. Sebagai gambaran, harga sempat melonjak hingga 2.000 yuan per metrik ton dalam satu hari, sebelum anjlok tajam dan kembali melambung di hari berikutnya. Situasi "roller coaster" ini membuat para pemilik pabrik terjepit dalam ketidakpastian yang luar biasa.

Di wilayah pusat produksi seperti Shandong dan Hebei, fenomena pengurangan jam kerja mulai meluas. Beberapa pabrik menengah dan kecil di Gaomi bahkan telah menghentikan operasional atau beralih dari tiga shift menjadi dua shift untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Masalah utamanya adalah ketidakmampuan produsen kain untuk meneruskan kenaikan biaya bahan baku kepada konsumen akhir. Sementara harga bahan baku melonjak ribuan yuan, harga kain mentah di pasar hanya mampu naik tipis sekitar 0,10 hingga 0,30 yuan per meter, angka yang jauh dari cukup untuk menutup modal produksi.

Kondisi ini diperparah dengan terganggunya jalur logistik global. Penutupan Selat Hormuz menyebabkan sejumlah perusahaan pelayaran menghentikan pemesanan baru untuk rute-rute kunci, yang secara langsung memukul ekspor tekstil ke wilayah Timur Tengah. Di saat biaya input membengkak, saluran distribusi justru tersumbat, menciptakan penumpukan stok yang berisiko merugikan margin keuntungan lebih dalam lagi.

Seorang eksekutif di pabrik tenun poliester menyatakan bahwa mereka lebih memilih untuk bersikap hati-hati dan menunggu daripada terus memproduksi barang dengan risiko kerugian yang tidak bisa dibagi dengan pembeli hilir. "Kami berada dalam posisi di mana kami menanggung semua beban kerugian dari kenaikan harga, namun tidak mendapatkan keuntungan saat harga berfluktuasi," ungkapnya.

Kini, masa depan industri tekstil China di kuartal kedua tahun 2026 sangat bergantung pada perkembangan situasi di Timur Tengah. Meskipun pasar diharapkan akan kembali ke keadaan yang lebih rasional, bayang-bayang krisis energi dan gangguan pasokan tetap menjadi ancaman nyata. Bagi para pengusaha tekstil, musim puncak tahun ini terasa jauh lebih dingin dari biasanya, memaksa mereka untuk memprioritaskan kelangsungan hidup perusahaan di atas ambisi mengejar volume penjualan.