Industri tekstil dan pakaian jadi Eropa kini sedang bersiap melakukan lompatan teknologi besar demi mempertahankan eksistensinya di panggung global. Dalam gelaran Konferensi Tahunan ke-20 Textile ETP di Amsterdam, Hub Inovasi DigitX resmi meluncurkan cetak biru strategis bertajuk "The Digital Transformation of the European Textile and Apparel Industry". Peta jalan yang disusun kolaboratif oleh lebih dari 100 pakar industri selama enam bulan ini menegaskan bahwa transformasi digital bukan lagi sekadar pilihan efisiensi, melainkan sebuah keharusan eksistensial jika manufaktur Eropa tidak ingin tergilas dan hilang sama sekali.

Laporan tersebut memetakan tiga tekanan utama yang memaksa industri tekstil Eropa segera beralih ke ekosistem digital. Pertama, kebutuhan akan ketangkasan kompetitif untuk menghadapi rival global yang bergerak super cepat (ultra-fast global rivals). Kedua, gelombang regulasi ketat dari Uni Eropa seperti kewajiban Digital Product Passport (DPP) dan Pedoman Uji Tuntas Keberlanjutan Perusahaan (CSDDD). Ketiga, tuntutan struktur data yang solid untuk mendukung model bisnis sirkular yang berbasis pada daur ulang.

Presiden Textile ETP, Marina Crnoja-Cosic, mengungkapkan bahwa mengawinkan dunia fisik serat dan mesin tekstil dengan dunia digital bit, bita, serta faktor kreativitas bukanlah perkara mudah. Namun, langkah ini mutlak diambil demi mendongkrak daya saing dan memenuhi visi industri hijau Eropa. "Menggabungkan dunia fisik material dengan pengambilan keputusan berbasis data yang presisi dalam rantai pasok yang kompleks adalah tugas berat. Namun, hal ini harus dilakukan agar industri Uni Eropa dapat beroperasi pada tingkat keberlanjutan dan sirkularitas yang jauh lebih tinggi," ujar Crnoja-Cosic dalam pidatonya. Strategi ini menargetkan jaringan nilai tekstil Eropa yang terintegrasi secara digital pada tahun 2035 melalui penguatan infrastruktur data, perangkat keras digital, perangkat lunak yang saling beroperasi (interoperable), serta kolaborasi intim antara tenaga kerja manusia dan kecerdasan buatan (AI).

Merespons cetak biru ini, Presiden EURATEX, Mario Jorge Machado, mengingatkan para pembuat kebijakan agar implementasi di lapangan berjalan realistis. Machado menekankan bahwa digitalisasi harus menjadi solusi praktis yang terjangkau bagi para pelaku usaha di pabrik, bukan justru menjadi lapisan birokrasi baru yang memperumit keadaan. "Jika Eropa menginginkan ekosistem tekstil yang kompetitif, sirkular, dan tangguh, digitalisasi harus menjadi fasilitator praktis bagi industri, bukan lapisan kompleksitas tambahan," tegas Machado. Dengan rencana aksi nyata yang akan dimatangkan pada paruh kedua tahun 2026, strategi kolektif ini diharapkan mampu membangun ruang data tekstil Eropa yang terpadu, menjembatani desainer dengan pelaku daur ulang, sekaligus melahirkan talenta digital masa depan yang siap menjaga benteng manufaktur benua biru.