Industri mesin tekstil global sepanjang tahun 2025 menunjukkan dinamika pasar yang sangat bervariasi dan penuh kontras berdasarkan laporan tahunan International Textile Machinery Shipment Statistics (ITMSS) ke-48 yang dirilis oleh International Textile Manufacturers Federation (ITMF). Di tengah tren penurunan yang melanda sebagian besar lini manufaktur tekstil dunia, sektor pemintalan justru mencatatkan pertumbuhan positif yang cukup mencolok. Berdasarkan survei komprehensif yang dikompilasi bekerja sama dengan lebih dari 200 produsen mesin tekstil global, pengiriman global untuk spindel short-staple baru dan rotor open-end masing-masing mengalami peningkatan sebesar +3,3 persen dan +3,5 persen secara year-on-year.
Sebaliknya, pengiriman untuk berbagai mesin pendukung dan pengolahan tekstil lainnya, seperti spindel long-staple, mesin draw-texturing, alat tenun tanpa antar-ulang (shuttle-less looms), serta mesin rajut bundar dan datar, justru terpantau mengalami koreksi tajam.
Lonjakan di sektor pemintalan didorong oleh peningkatan pengiriman spindel short-staple global sebanyak 195 ribu unit pada tahun 2025, sehingga totalnya mencapai 6,11 juta unit. Wilayah Asia dan Oseania mendominasi sebagian besar pasar pengiriman baru dengan porsi mencapai 95 persen, di mana volume pengiriman ke kawasan tersebut tumbuh sebesar 8,5 persen dibandingkan tahun 2024. Negara-negara yang menjadi enam investor terbesar dalam segmen short-staple ini meliputi China, India, Bangladesh, Indonesia, Uzbekistan, dan Pakistan. Sementara itu, untuk pengiriman rotor open-end global, tercatat sebanyak 645 ribu unit dikirimkan ke seluruh dunia, yang menunjukkan tambahan sekitar 50 ribu unit dibandingkan tahun sebelumnya. Sebanyak 94 persen dari total pengiriman global tersebut diserap oleh kawasan Asia dan Oseania, dengan China, India, dan Vietnam keluar sebagai tiga investor terbesar dunia yang masing-masing membukukan peningkatan investasi sebesar +4 persen, +12 persen, dan +17 persen.
Kendati sektor pemintalan menunjukkan performa yang tangguh, segmen mesin tekstil lainnya justru menghadapi tekanan pasar yang cukup berat sepanjang tahun 2025. Pengiriman spindel long-staple (wol) secara global merosot tajam hingga -31 persen menjadi hanya 90 ribu unit, yang utamanya disebabkan oleh lemahnya permintaan di kawasan Asia dan Oseania. Tren penurunan serupa juga terjadi pada mesin teksturing, di mana pengiriman spindel draw-texturing pemanas tunggal turun -21 persen menjadi 65 ribu unit, dan pemanas ganda merosot -22 persen ke level 743 ribu unit. Di sektor tenun, pengiriman shuttle-less looms global berkurang -27,5 persen menjadi 164 ribu unit, dengan penurunan terdalam tercatat pada mesin tenun water-jet yang anjlok hingga -38 persen.
Tekanan pelemahan juga merambah ke sektor perajutan dan penyfinan (finishing). Pengiriman mesin rajut bundar berukuran besar (large circular knitting machines) mengalami kemunduran sebesar -13 persen menjadi 24,5 ribu unit, di mana China tetap menjadi destinasi favorit utama yang menyerap 53 persen dari seluruh pengiriman. Pengiriman mesin rajut datar elektronik (electronic flat knitting machines) turut mengalami koreksi -21 persen menjadi 106 ribu mesin, meskipun wilayah Asia dan Oseania masih menyerap 93 persen dari total pengiriman global. Di sisi lain, segmen mesin finishing menunjukkan hasil yang beragam; pengiriman stenters dalam kategori kain kontinu mengalami kenaikan tipis +3 persen menjadi 2,3 ribu unit, sementara pengiriman mesin celup jenis overflow dyeing di segmen kain diskontinu mencatatkan penurunan -30 persen menjadi 2,9 ribu unit. Data komprehensif ITMF ini menegaskan bahwa tahun 2025 merupakan periode penyesuaian struktural yang besar bagi rantai pasok industri manufaktur tekstil global.