Pasar kapas dunia mencatatkan pergerakan yang dinamis sepanjang bulan Juli 2026, dengan tren kenaikan harga yang terlihat di berbagai bursa utama. Kontrak berjangka NY/ICE untuk bulan Desember menjadi sorotan utama setelah berhasil menembus level 80 sen per pon, sebuah pencapaian yang didorong oleh momentum positif sejak awal Juli. Kenaikan harga ini tidak terjadi secara tunggal, melainkan melalui serangkaian fluktuasi yang mencerminkan respons pasar terhadap sentimen global yang terus berubah. Tidak hanya di Amerika Serikat, tren kenaikan harga juga merambat ke pasar internasional lainnya seperti Indeks A dan harga kapas di India, yang menunjukkan adanya penguatan permintaan atau setidaknya ketatnya pasokan di beberapa wilayah produsen utama.
Dinamika pasokan dan permintaan global turut mendapatkan penyesuaian melalui laporan terbaru dari USDA. Lembaga tersebut merevisi naik proyeksi produksi kapas global untuk periode 2026/27 menjadi 117,3 juta bal, disertai dengan peningkatan penggunaan oleh industri tekstil. Meski terdapat penyesuaian volume produksi dan ekspor di sejumlah negara, seperti penurunan produksi di Brasil untuk musim 2025/26, neraca stok global tetap berada dalam pengawasan ketat. Penambahan estimasi produksi di beberapa negara produsen besar seperti Amerika Serikat, Turki, dan Uzbekistan memberikan sedikit napas bagi ketersediaan stok, meski dampak jangka panjang terhadap keseimbangan pasar tetap bergantung pada realisasi panen di lapangan.
Faktor utama yang memicu gejolak harga bulan ini berkaitan erat dengan kondisi di Tiongkok, baik dari sisi kebijakan perdagangan maupun cuaca. Laporan mengenai potensi kemajuan dalam negosiasi tarif perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok memberikan sentimen positif bagi pelaku pasar. Namun, di sisi lain, kekhawatiran muncul akibat cuaca panas yang melanda wilayah Xinjiang. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan penurunan hasil panen, yang diperparah dengan proyeksi pengurangan area tanam di Tiongkok. Meskipun Tiongkok memiliki cadangan kapas yang cukup besar sebagai banteng pelindung, ancaman terhadap produksi dalam negeri tetap menjadi perhatian utama yang memengaruhi dinamika harga.
Selain Tiongkok, cuaca di wilayah produsen lain seperti India dan Amerika Serikat juga memegang peranan krusial. Kekhawatiran awal mengenai potensi kekeringan akibat pola cuaca El NiƱo di India perlahan mereda setelah hujan monsun mulai membasahi sebagian besar wilayah. Sementara itu, di Amerika Serikat, meskipun kondisi di beberapa wilayah seperti Texas Barat mulai mengering dan membutuhkan perhatian khusus selama masa pematangan tanaman, curah hujan yang sempat turun di wilayah Tenggara dan Mid-South telah membantu mengurangi tekanan kekeringan.
Di luar faktor agronomis, stabilitas harga energi global setelah gencatan senjata di Teluk Persia turut memberikan pengaruh terhadap biaya hilir industri tekstil, yang pada gilirannya memengaruhi daya beli konsumen. Kombinasi dari seluruh faktor ini menciptakan lanskap pasar kapas yang sangat responsif, di mana setiap perubahan cuaca dan kebijakan dagang dapat dengan cepat tercermin dalam pergerakan harga komoditas ini.