Kenaikan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Mei 2026 menjadi kabar positif bagi sektor manufaktur Indonesia. Kementerian Perindustrian mencatat IKI mencapai 53,56, meningkat dibandingkan posisi April 2026 yang berada pada angka 51,75. Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 20 subsektor berada dalam fase ekspansi dan menyumbang sekitar 97,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas pada triwulan pertama 2026.
Industri fashion global saat ini menghadapi tantangan besar terkait keberlanjutan lingkungan. Setiap tahun, sektor ini menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah tekstil, dan jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat hingga 134 juta ton pada tahun 2030 apabila tidak ada perubahan signifikan dalam pola produksi dan konsumsi. Sebagian besar limbah tekstil berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai. Selama proses tersebut, limbah tekstil dapat melepaskan gas metana dan berbagai bahan kimia berbahaya yang berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan serta perubahan iklim. Kondisi ini menjadikan penggunaan tekstil daur ulang sebagai salah satu solusi penting yang tidak lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak bagi industri fashion global.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat semakin memperberat tekanan terhadap industri nasional. Kondisi tersebut membuat banyak pelaku usaha kini memasuki fase bertahan hidup atau survival mode di tengah meningkatnya biaya produksi dan melemahnya daya beli masyarakat.
Industri fashion dunia kembali menjadi sorotan setelah sebuah penelitian terbaru mengungkap besarnya limbah yang dihasilkan bahkan sebelum pakaian dipasarkan kepada konsumen. Studi yang dilakukan peneliti di SINTEF Industry bersama Program Ekologi Industri NTNU menemukan bahwa hampir separuh bahan tekstil hilang pada tahap awal produksi pakaian.
Page 1 of 208