Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat semakin memperberat tekanan terhadap industri nasional. Kondisi tersebut membuat banyak pelaku usaha kini memasuki fase bertahan hidup atau survival mode di tengah meningkatnya biaya produksi dan melemahnya daya beli masyarakat.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia, Bob Azam, mengatakan dunia usaha saat ini menghadapi situasi yang sangat berat akibat kombinasi berbagai tekanan ekonomi yang datang secara bersamaan.

Menurutnya, pelemahan rupiah, kenaikan harga energi, tingginya suku bunga, hingga masalah arus kas akibat restitusi yang tertahan telah menciptakan kondisi yang disebut sebagai perfect storm bagi industri nasional. Selain itu, konsolidasi operasi perusahaan global juga berpotensi memicu pengurangan aktivitas bisnis di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Bob menjelaskan perusahaan kini berupaya menekan biaya operasional dan meningkatkan efisiensi secara maksimal agar tetap mampu bertahan. Namun, ruang gerak industri semakin sempit karena kenaikan biaya produksi tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada konsumen.

Daya beli masyarakat yang melemah membuat perusahaan sulit menaikkan harga produk. Jika harga dipaksa naik, maka penjualan dikhawatirkan akan turun dan memperburuk kondisi usaha.

“Efisiensi dan produktivitas secara lebih radikal tidak terelakkan untuk bertahan dalam upaya menyerap semua kenaikan biaya semaksimal mungkin,” ujar Bob, Kamis (28/5/2026).

Tekanan serupa juga dirasakan industri tekstil dan serat nasional. Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia, Farhan Aqil, mengatakan pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap kenaikan harga bahan baku impor dan biaya produksi industri tekstil.

Ia menyebut salah satu bahan baku utama yang mengalami kenaikan adalah Mono Ethylene Glycol (MEG) yang masih diimpor dari Arab Saudi. Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia juga menyebabkan harga polyester meningkat tajam karena bahan baku tersebut berbasis petrokimia.

Farhan menjelaskan sebelumnya harga bahan baku sudah melonjak hampir 40 persen akibat kenaikan harga minyak dunia. Ketika ditambah pelemahan rupiah terhadap dolar AS, total kenaikan biaya produksi diperkirakan dapat mencapai sekitar 50 persen.

Menurutnya, derasnya arus impor produk tekstil juga semakin memperburuk kondisi industri dalam negeri. Ia menilai rantai pasok industri tekstil nasional telah banyak terputus akibat deindustrialisasi yang berlangsung dalam jangka panjang.

Farhan menilai pelemahan rupiah saat ini menjadi dampak lanjutan dari kebijakan yang terlalu longgar terhadap produk impor yang langsung masuk ke pasar domestik tanpa melalui proses pengolahan di dalam negeri.

Karena itu, pelaku industri meminta pemerintah segera mengambil langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Stabilitas kurs dinilai sangat penting karena meskipun transaksi penjualan dilakukan dalam rupiah, banyak pembayaran bahan baku industri masih menggunakan dolar AS.

Di pasar luar negeri, tekanan terhadap rupiah memang semakin terlihat. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat menyentuh level Rp17.892 per dolar AS pada perdagangan offshore tadi malam sebelum akhirnya ditutup di posisi Rp17.886 per dolar AS.

Sementara itu, pada perdagangan Non-Deliverable Forward (NDF) Kamis pagi (28/5/2026), rupiah sempat menguat tipis ke level Rp17.846 per dolar AS setelah sebelumnya bergerak stagnan.

Adapun pada perdagangan domestik terakhir sebelum libur Iduladha, Selasa (26/5/2026), rupiah ditutup di level Rp17.789 per dolar AS yang menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah. Sepanjang perdagangan hari itu, rupiah beberapa kali mencetak rekor pelemahan baru sebelum akhirnya ditutup mendekati level Rp17.800 per dolar AS.