Industri ritel pakaian global saat ini menghadapi tantangan ganda akibat kombinasi antara perubahan kebijakan regulasi lingkungan dan pergeseran pola belanja konsumen yang semakin hemat. Berlakunya regulasi Ecodesign for Sustainable Products Regulation (ESPR) di Uni Eropa kini mengharuskan perusahaan untuk lebih transparan dan bertanggung jawab atas pengelolaan stok barang yang tidak terjual, mengingat pemusnahan produk kini menjadi tindakan yang dapat dikenakan sanksi. Di sisi lain, tekanan inflasi, dampak peperangan, dan kenaikan tarif telah menekan pendapatan sekali pakai konsumen, mendorong mereka untuk lebih selektif dalam berbelanja atau beralih ke produk barang bekas.

Survei yang dilakukan oleh Statista menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen konsumen di Amerika Serikat telah mengurangi pengeluaran pakaian karena kenaikan harga. Sebagai respons langsung, lebih dari seperempat konsumen menyatakan rencana untuk meningkatkan pembelian barang bekas guna menyiasati kondisi ekonomi yang penuh tekanan. Fenomena ini menjadikan pasar barang bekas sebagai mekanisme pertahanan utama bagi konsumen sekaligus menjadi titik krusial bagi perusahaan untuk mengelola kelebihan inventaris mereka secara efisien.

Perubahan perilaku ini sangat dipengaruhi oleh generasi muda, terutama Gen Z dan milenial, yang memprioritaskan keberlanjutan dan nilai jual kembali suatu produk sebelum melakukan pembelian baru. Data menunjukkan bahwa 58 persen konsumen Gen Z dan 55 persen milenial memprioritaskan barang bekas, sementara sekitar setengah dari mereka aktif menjual kembali koleksi pakaian mereka di berbagai platform untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Nilai jual kembali kini menjadi faktor penentu utama dalam keputusan belanja, di mana 60 persen konsumen mempertimbangkan potensi resale di masa depan, dan 49 persen mulai beralih dari barang berkualitas rendah yang tidak memiliki nilai jual kembali.

Untuk menghadapi tantangan ini, teknologi kecerdasan buatan (AI) dipandang sebagai solusi masa depan bagi para eksekutif ritel. Adopsi AI memungkinkan perusahaan untuk memahami pola belanja konsumen yang mencari barang dengan harga terbaik, baik melalui platform barang bekas maupun situs resmi perusahaan. Selain itu, AI membantu eksekutif dalam mengambil keputusan produksi yang lebih cepat dan tepat, sehingga risiko penumpukan stok barang yang tidak terjual dapat diminimalisir. Dengan memanfaatkan tren pasar barang bekas dan kecanggihan AI, perusahaan ritel memiliki peluang untuk tetap relevan dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian ekonomi global.