Industri tekstil dan pakaian jadi di Thailand tengah mengalami pergeseran struktural yang signifikan selama kuartal pertama tahun 2026. Berdasarkan data dari alat intelijen sumber TexPro, total nilai impor tekstil negara tersebut tercatat mengalami penurunan sebesar 7,1 persen secara tahunan, yakni menjadi 562,56 juta dolar AS dibandingkan dengan 605,47 juta dolar AS pada periode yang sama di tahun 2025. Meskipun volume impor secara keseluruhan menurun, komposisi bahan yang didatangkan justru menunjukkan perubahan pola yang cukup mencolok, di mana ketergantungan terhadap bahan baku tekstil olahan atau kain justru mengalami peningkatan.

Porsi impor kain dalam keranjang tekstil Thailand tercatat naik menjadi 56,44 persen pada kuartal pertama 2026, meningkat dari 54,99 persen pada tahun sebelumnya dan 51,40 persen pada tahun 2023. Fenomena ini sangat kontras dengan pangsa serat yang justru merosot tajam menjadi 12,91 persen dari 14,80 persen pada kuartal pertama 2025 dan 18,06 persen pada tahun 2023. Pergeseran komposisi ini mengindikasikan bahwa para produsen di Thailand semakin cenderung mencari input tekstil yang telah diproses daripada bahan mentah. Tren ini mencerminkan peran Thailand yang kini semakin mengukuhkan diri sebagai pusat manufaktur hilir dalam rantai pasok regional, di mana mereka lebih mengandalkan kain impor untuk dikonversi menjadi produk pakaian bernilai tambah tinggi.

Di sisi lain, performa ekspor tekstil Thailand menghadapi tantangan yang lebih berat dibandingkan sektor impor. Nilai ekspor tekstil tercatat anjlok sebesar 8,7 persen secara tahunan, dari 648,01 juta dolar AS pada tahun 2025 menjadi 591,50 juta dolar AS pada kuartal pertama 2026. Penurunan ekspor yang lebih dalam dibandingkan impor ini menjadi sinyal bahwa permintaan dari pasar luar negeri masih cenderung lemah, sementara aktivitas pemrosesan dan konsumsi tekstil di pasar domestik relatif lebih stabil.

Dalam kategori ekspor, kain tetap menjadi komoditas utama dengan kontribusi 40,05 persen dari total ekspor, diikuti ketat oleh serat sebesar 39,63 persen. Data ini menunjukkan bahwa meskipun permintaan global sedang lesu, Thailand masih mempertahankan kekuatan dalam penyediaan material tekstil hulu. Akibat dari dinamika ekspor dan impor tersebut, surplus perdagangan tekstil Thailand pun menyempit menjadi 28,94 juta dolar AS, turun dari 42,54 juta dolar AS pada kuartal pertama 2025. Secara keseluruhan, data ini menggambarkan sektor tekstil Thailand yang tetap aktif secara domestik namun tengah berjuang menghadapi tekanan pasar internasional, sekaligus mempertegas evolusi posisinya yang kini lebih bergantung pada bahan antara impor untuk menopang industri manufakturnya.