Kenaikan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Mei 2026 menjadi kabar positif bagi sektor manufaktur Indonesia. Kementerian Perindustrian mencatat IKI mencapai 53,56, meningkat dibandingkan posisi April 2026 yang berada pada angka 51,75. Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 20 subsektor berada dalam fase ekspansi dan menyumbang sekitar 97,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas pada triwulan pertama 2026.


Di antara berbagai subsektor tersebut, industri pakaian jadi menjadi salah satu yang mencatatkan kinerja terbaik. Peningkatan pesanan dan produksi menunjukkan adanya aktivitas industri yang semakin bergairah, terutama didorong oleh membaiknya permintaan ekspor serta persiapan menghadapi puncak konsumsi global pada semester kedua tahun ini. Namun, di balik capaian tersebut, kondisi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional masih menyimpan sejumlah tantangan yang tidak bisa diabaikan.

Ekonom dari Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai bahwa peningkatan IKI saat ini lebih tepat dipandang sebagai sinyal stabilisasi dibandingkan sebagai tanda pemulihan penuh industri padat karya nasional. Menurutnya, pertumbuhan yang terjadi masih terkonsentrasi di sektor hilir, khususnya industri pakaian jadi, sementara sektor hulu seperti industri serat, benang, kain, serta subsektor kulit dan alas kaki masih menghadapi tekanan dan bahkan mengalami kontraksi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa rantai pasok industri tekstil nasional belum bergerak secara serempak. Dalam sebuah industri yang ideal, pemulihan seharusnya terjadi dari hulu hingga hilir sehingga menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan. Namun, realitas saat ini memperlihatkan adanya fragmentasi dalam rantai pasok, di mana peningkatan aktivitas produksi garmen belum mampu memberikan dorongan yang sama kepada industri bahan baku dalam negeri.

Pertumbuhan subsektor pakaian jadi juga tidak terlepas dari dinamika global. Strategi diversifikasi rantai produksi internasional yang dikenal dengan konsep China Plus One memberikan peluang bagi negara-negara seperti Indonesia, Vietnam, dan Bangladesh untuk memperoleh tambahan pesanan dari merek-merek global yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap produksi di China. Kondisi ini memberikan keuntungan bagi industri garmen Indonesia yang memiliki daya saing dari sisi tenaga kerja dan kapasitas produksi.

Meski demikian, tantangan struktural masih membayangi. Industri pakaian jadi nasional masih sangat bergantung pada bahan baku impor, baik berupa benang, kain, bahan kimia, maupun berbagai aksesori produksi lainnya. Sebagian besar kebutuhan tersebut dipenuhi melalui fasilitas kawasan berikat yang memungkinkan perusahaan mengimpor bahan baku untuk kebutuhan ekspor. Akibatnya, pertumbuhan industri garmen belum sepenuhnya mencerminkan kuatnya rantai pasok domestik.

Ketergantungan terhadap impor membuat industri tekstil rentan terhadap gejolak nilai tukar. Pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini meningkatkan biaya produksi karena mayoritas bahan baku dibeli menggunakan mata uang asing. Di sisi lain, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 5,25 persen turut menambah beban biaya modal kerja, khususnya bagi industri padat karya yang membutuhkan pembiayaan operasional dalam jumlah besar.

Tekanan tersebut semakin terasa mengingat banyak pabrik tekstil nasional masih beroperasi dengan tingkat utilisasi yang relatif rendah, berkisar antara 40 hingga 70 persen. Dalam kondisi seperti ini, kenaikan biaya produksi dapat mengurangi daya saing perusahaan dan berpotensi mendorong langkah efisiensi, termasuk pengurangan kapasitas produksi maupun tenaga kerja apabila kondisi pasar memburuk.

Fenomena ini menciptakan sebuah paradoks dalam industri tekstil nasional. Dari sisi indikator makro, industri terlihat sedang mengalami ekspansi berkat pertumbuhan subsektor garmen. Namun jika dilihat lebih dalam, fondasi industrinya masih menghadapi berbagai persoalan mendasar. Pertumbuhan yang terjadi saat ini lebih banyak didorong oleh faktor musiman dan peningkatan permintaan ekspor dibandingkan oleh penguatan struktur industri secara menyeluruh.

Peran industri pakaian jadi tetap sangat penting bagi perekonomian Indonesia karena mampu menyerap jutaan tenaga kerja, terutama di kawasan industri Jawa Barat dan Jawa Tengah. Namun, dalam situasi saat ini, subsektor tersebut lebih berfungsi sebagai penyangga lapangan kerja daripada motor penciptaan pekerjaan baru. Penyerapan tenaga kerja yang lebih besar baru akan terjadi apabila terdapat investasi baru, pembangunan pabrik tambahan, serta ekspansi kapasitas produksi yang berkelanjutan.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan industri TPT, pemerintah perlu memperkuat sektor hulu yang selama ini menjadi titik lemah industri nasional. Pendalaman industri petrokimia dan serat sintetis menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku. Selain itu, evaluasi terhadap kebijakan kawasan berikat, penyediaan skema pembiayaan berbunga rendah bagi industri padat karya, serta pengawasan yang lebih ketat terhadap impor ilegal dan pakaian bekas perlu terus dilakukan.

Ke depan, keberhasilan industri tekstil Indonesia tidak hanya diukur dari tingginya pesanan garmen atau kenaikan indeks kepercayaan industri, tetapi juga dari kemampuan membangun rantai pasok domestik yang kuat dan terintegrasi. Tanpa penguatan sektor hulu, pertumbuhan di sektor hilir akan tetap rentan terhadap berbagai tekanan eksternal. Oleh karena itu, momentum positif yang terjadi saat ini harus dimanfaatkan sebagai pijakan untuk melakukan transformasi struktural agar industri tekstil nasional dapat tumbuh lebih sehat, berdaya saing, dan berkelanjutan.