Pasar tekstil dunia dikejutkan dengan pergerakan agresif India sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data terbaru dari alat intelijen sumber TexPro, India mencatatkan lonjakan impor kapas (HS Code 5201) yang sangat signifikan, dengan nilai impor mencapai 1.927,71 juta Dolar AS. Angka ini merepresentasikan kenaikan sebesar 92,50 persen dibandingkan tahun 2024 yang hanya berada di angka 1.001,39 juta Dolar AS. Namun, kejutan sebenarnya terletak pada volume fisik kapas yang didatangkan ke Negeri Anak Benua tersebut; jumlahnya meroket hingga 130 persen, menyentuh angka 1.036,04 juta kg dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 451,42 juta kg. Fenomena ini menandakan bahwa India tengah melakukan aksi pengadaan besar-besaran, melampaui rekor impor tahun 2022.
Pemicu utama di balik "pesta impor" ini adalah tren pelemahan harga kapas global yang terus berlanjut secara konsisten. Pada tahun 2025, harga rata-rata kapas merosot menjadi 1,86 Dolar AS per kg, turun cukup dalam dari harga 2,22 Dolar AS pada tahun 2024. Jika ditarik lebih jauh ke belakang, penurunan ini terlihat sangat tajam mengingat harga kapas sempat bertengger di angka 2,82 Dolar AS pada 2023 dan mencapai puncaknya di 3,69 Dolar AS pada 2022. Para pembeli dari industri tekstil India tampaknya dengan jeli memanfaatkan momentum "harga murah" ini untuk mengamankan stok bahan baku dalam volume yang masif. Penurunan harga yang berkelanjutan ini menjadi insentif bagi para manufaktur domestik untuk memperkuat rantai pasok mereka di tengah persaingan tekstil global yang kian kompetitif.
Selain volume yang fantastis, tahun 2025 juga mencatat pergeseran dramatis dalam peta negara pemasok. Brasil secara mengejutkan berhasil merebut posisi puncak sebagai pemasok kapas terbesar ke India, menggeser dominasi Australia dan Amerika Serikat. Brasil menyumbang 22,20 persen dari total nilai impor dengan angka mencapai 427,90 juta Dolar AS. Padahal, jika menilik data tahun 2023 dan 2024, pangsa pasar Brasil masing-masing hanya sebesar 4,05 persen dan 8,08 persen. Perubahan pola pengadaan ini menunjukkan bahwa pembeli India kini sangat pragmatis dalam memilih sumber bahan baku, dengan memprioritaskan negara yang mampu menawarkan kombinasi nilai dan kualitas terbaik pada harga yang lebih rendah.
Di sisi lain, Amerika Serikat kini membuntuti di posisi kedua dengan pangsa 21,85 persen, sementara Australia harus rela turun ke peringkat ketiga dengan kontribusi 19,55 persen. Negara-negara lain seperti Mali, Singapura, dan Mesir tetap menjadi pemain kunci meski dengan persentase yang lebih kecil. Perubahan peta kekuatan ini mencerminkan volatilitas pasar dan kemampuan adaptasi industri India terhadap perubahan geopolitik serta logistik perdagangan internasional. Secara keseluruhan, lanskap perdagangan kapas India saat ini didorong sepenuhnya oleh volume (volume-driven) yang didukung oleh rendahnya harga komoditas global. Langkah strategis ini diprediksi akan memperkuat posisi tawar industri tekstil India di pasar dunia, mengubah tantangan harga menjadi peluang pertumbuhan yang eksponensial bagi ekosistem pakaian jadi nasional.