Sri Lanka baru saja mencatatkan tonggak sejarah baru dalam upaya memperkuat daya saing industri garmennya di kancah internasional. Sebuah fasilitas pelatihan serbaguna yang megah resmi diresmikan di Sri Lanka Institute of Textile & Apparel (SLITA) yang berlokasi di Ratmalana. Proyek ambisius ini menelan investasi fantastis sebesar 520 juta Rupee Sri Lanka atau setara sekitar 1,66 juta dolar AS, sebuah angka yang mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menciptakan tenaga kerja profesional yang siap menghadapi tantangan industri mode modern yang kian kompetitif.
Gedung kompleks pelatihan ini mulai dibangun pada tahun 2024 dan dirancang khusus untuk menyediakan lingkungan belajar yang berbasis teknologi mutakhir. Di dalamnya, para siswa dan praktisi industri dapat menikmati berbagai fasilitas kelas dunia, termasuk laboratorium Computer-Aided Design (CAD) yang canggih, studio seni dan fashion untuk mengasah kreativitas, sebuah auditorium luas, hingga perpustakaan yang komprehensif. Kehadiran fasilitas ini diharapkan tidak hanya mendukung program akademik internal SLITA, tetapi juga menjadi pusat inisiatif pelatihan yang berorientasi langsung pada kebutuhan industri tekstil global.
Peresmian fasilitas ini dihadiri langsung oleh Sunil Handunneththi, Menteri Pengembangan Industri dan Kewirausahaan Sri Lanka. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa investasi besar ini adalah langkah strategis untuk memastikan bahwa sektor tekstil negara tersebut tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Keberadaan laboratorium desain berbasis komputer dan studio fashion modern ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara kurikulum pendidikan tradisional dengan tuntutan pasar yang kini sangat bergantung pada digitalisasi dan efisiensi produksi.
Para pakar industri tekstil di Sri Lanka menyambut baik pembukaan kompleks ini, mengingat industri tekstil merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara tersebut. Dengan adanya fasilitas di Ratmalana ini, Sri Lanka berupaya menggeser posisinya dari sekadar pusat manufaktur menjadi pusat keunggulan desain dan inovasi tekstil. Modernisasi ini dianggap krusial agar Sri Lanka dapat bersaing dengan raksasa tekstil Asia lainnya seperti Vietnam dan Bangladesh.
Melalui integrasi teknologi CAD dan fasilitas studio yang mumpuni, para profesional muda diharapkan mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah tinggi yang memenuhi standar kualitas global. Peresmian pusat pelatihan di SLITA ini menjadi sinyal kuat bagi investor internasional bahwa Sri Lanka siap bertransformasi menjadi pusat talenta tekstil yang inovatif, cerdas secara teknologi, dan berkelanjutan di masa depan. Fokus pada pengembangan sumber daya manusia melalui fasilitas modern ini diyakini akan menjadi kunci utama bagi kebangkitan kembali sektor manufaktur negara tersebut di pasar dunia.