Industri tekstil dan pakaian jadi (T&A) Filipina memulai tahun 2026 dengan dinamika pasar yang kontras, mempertegas ketergantungan negara tersebut pada pasokan luar negeri untuk memenuhi kebutuhan domestik. Berdasarkan laporan terbaru Statistik Perdagangan Barang Internasional (IMTS) yang dirilis oleh Otoritas Statistik Filipina (PSA), nilai impor gabungan produk tekstil dan pakaian melonjak tajam menjadi 233,60 juta dolar AS pada Januari 2026. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar 196,09 juta dolar AS, sebuah tren yang dipicu oleh derasnya arus masuk bahan baku tekstil dan pakaian jadi ke pasar Manila.

Di tengah sorotan global terhadap isu keberlanjutan, India kini tengah bersiap menyulap gunungan limbah tekstilnya menjadi sektor ekonomi baru yang sangat menjanjikan. Berdasarkan laporan terbaru bertajuk "Mapping of Textile Waste Value Chain in India" yang diluncurkan oleh Menteri Tekstil India, Giriraj Singh, pasar daur ulang tekstil di negara tersebut diproyeksikan melonjak drastis hingga menyentuh angka 3,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp55,3 triliun pada tahun 2030. Transformasi hijau ini tidak hanya berbicara tentang kelestarian lingkungan, tetapi juga tentang ledakan lapangan kerja yang diperkirakan mampu menyerap hingga 100.000 tenaga kerja baru di sektor ramah lingkungan.

Peta perdagangan dunia mencatatkan sejarah baru pada awal tahun 2026. Laporan perdagangan penuh pertama tahun ini mengonfirmasi perubahan kepemimpinan yang dramatis dalam industri garmen global: Vietnam resmi menumbangkan dominasi Tiongkok sebagai pemasok pakaian jadi terbesar ke pasar Amerika Serikat. Berdasarkan data TexPro 2025, Vietnam berhasil mengekspor garmen senilai 17,02 miliar dolar AS dengan pangsa pasar 20,81 persen, sementara Tiongkok merosot tajam ke angka 11,95 miliar dolar AS.

Lobi industri garmen Bangladesh kini tengah memasuki babak baru yang krusial bagi masa depan ekspor negara tersebut. Menyusul penandatanganan perjanjian dagang terbaru antara Amerika Serikat dan Bangladesh, Asosiasi Produsen dan Eksportir Garmen Bangladesh (BGMEA) secara resmi melayangkan permintaan klarifikasi terkait mekanisme teknis akses bebas bea masuk. Fokus utama dari dialog ini adalah skema insentif bagi produk pakaian jadi yang diproduksi menggunakan bahan baku kapas asal Amerika Serikat.

Industri tekstil dan pakaian jadi (T&A) Sri Lanka kini memasuki fase penyelarasan struktural yang krusial seiring dengan dimulainya tahun 2026. Setelah bertahun-tahun bergantung pada pasokan eksternal, negara kepulauan ini berhasil mencatat penurunan biaya impor kain menjadi 2,1 miliar dolar AS pada tahun 2025. Langkah ini bukan sekadar efisiensi anggaran, melainkan sebuah manuver strategis untuk memperkuat nilai tambah domestik dan mempercepat waktu pengiriman ke pasar global yang kian kompetitif. Meskipun Tiongkok masih mendominasi sekitar 45 persen dari total volume impor, tren penurunan sourcing eksternal ini menandai ambisi Sri Lanka untuk berdiri di atas kaki sendiri melalui integrasi vertikal.