Industri tekstil Bangladesh, yang merupakan tulang punggung ekonomi negara tersebut, kini berada dalam fase kritis yang mengancam stabilitas pasar mode global. Ketegangan memuncak ketika Bangladesh Textile Mills Association (BTMA) mengeluarkan ultimatum keras untuk menghentikan operasional seluruh pabrik pemintalan secara tanpa batas waktu mulai Februari 2026. Ancaman ini muncul sebagai protes atas ketidakmampuan produsen lokal bersaing dengan serbuan benang impor bebas bea—terutama dari India—di tengah beban utang bank yang mencekik dan krisis energi yang tak kunjung usai.

Industri tekstil dan garmen Vietnam tengah menatap cakrawala baru dengan ambisi besar di tahun 2026. Setelah mencatatkan rekor ekspor senilai 46 miliar dolar AS pada tahun 2025, sektor andalan Negeri Naga Biru ini kini mematok target ambisius sebesar 50 miliar dolar AS untuk tahun mendatang. Langkah ini menjadi bagian dari visi besar Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam yang menargetkan tambahan nilai ekspor nasional hingga 38 miliar dolar AS, menyusul capaian bersejarah total ekspor negara sebesar 475 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya.

Industri tekstil dan pakaian jadi Vietnam kini tengah menikmati momentum emas, mengukuhkan posisinya sebagai pemain kunci dalam peta perdagangan global. Dengan dukungan penuh pemerintah dan keterlibatan internasional yang semakin intens, sektor ini bukan lagi sekadar pusat manufaktur biaya rendah, melainkan telah bertransformasi menjadi pusat inovasi yang mengutamakan keberlanjutan. Performa impresif ini tercermin dalam data ekspor lima bulan pertama tahun 2025, di mana ekspor tekstil dan garmen Vietnam melonjak 9 persen mencapai angka 17,58 miliar dolar AS. Pertumbuhan ini menjadi fondasi kuat saat industri bersiap menyambut gelaran akbar Vietnam International Trade Fair for Apparel, Textiles, and Textile Technologies (VIATT 2026) pada akhir Februari mendatang di Ho Chi Minh City.

Pemerintah Bangladesh kini terjebak dalam pusaran konflik kepentingan antara dua pilar utama industrinya: produsen benang (spinners) dan eksportir garmen siap pakai (RMG). Ketegangan memuncak setelah Kementerian Perdagangan merekomendasikan pencabutan fasilitas impor bebas bea untuk jenis benang tertentu, sebuah langkah yang disambut sorak sorai oleh pabrik pemintalan lokal namun memicu protes keras dari para pengusaha garmen. Inti masalahnya terletak pada benang count 10 hingga 30—ukuran ketebalan menengah yang menjadi bahan baku utama produk rajutan (knitwear) ekspor Bangladesh.

Industri pakaian jadi global tengah menyaksikan pergeseran kekuatan yang dramatis pada awal tahun 2026. Meskipun Bangladesh secara angka agregat masih memegang predikat sebagai eksportir pakaian jadi terbesar kedua di dunia dengan nilai ekspor mencapai $38,48 miliar pada tahun 2024, sebuah realitas pahit mulai terkuak: Vietnam kini secara strategis mendikte masa depan mode global, sementara Bangladesh terjebak dalam model kompetisi lama yang kian rapuh.