Pemerintah Tiongkok secara resmi mengumumkan kebijakan penyesuaian tarif impor yang mulai berlaku pada Januari 2026, sebuah langkah yang dirancang untuk memperkuat rantai pasok manufaktur domestik di tengah ketidakpastian ekonomi global. Berdasarkan pengumuman dari Dewan Negara, kebijakan ini akan memberlakukan tarif impor yang lebih rendah bagi segmen strategis dalam rantai nilai tekstil. Namun, berbeda dengan ekspektasi pasar konsumen, insentif ini hanya menyasar sektor hulu dan produk antara seperti serat sintetis, benang filamen kimia, serta input tekstil fungsional, sementara produk pakaian jadi tetap dikenakan tarif normal.

Keputusan ini bertujuan untuk mendukung peningkatan kelas industri dan menstabilkan margin manufaktur Tiongkok. Fokus utama pengurangan tarif terletak pada bahan baku yang ketersediaan domestiknya masih terbatas atau sangat penting bagi manufaktur bernilai tambah tinggi. Selain serat khusus dan kain performa, kebijakan ini juga mencakup bahan kimia pembantu untuk pencelupan serta komponen mesin tekstil. Dengan menurunkan biaya input, Tiongkok berupaya menjaga daya saing ekspornya, terutama pada produk tekstil teknis yang digunakan dalam industri otomotif, medis, dan perlengkapan luar ruangan.

Negara-negara dengan keunggulan teknologi tekstil seperti Jepang dan Korea Selatan diprediksi menjadi penerima manfaat utama karena posisi kuat mereka dalam produksi serat berkinerja tinggi. Di Asia Tenggara, Vietnam, Thailand, dan Indonesia juga berpeluang meningkatkan volume pengiriman benang sintetis melalui kerangka kemitraan ekonomi regional. Namun, negara eksportir garmen besar seperti Bangladesh dan Kamboja diperkirakan tidak akan merasakan dampak langsung yang signifikan. Hal ini dikarenakan struktur ekspor mereka ke Tiongkok didominasi oleh pakaian jadi yang justru tidak masuk dalam daftar pemotongan tarif kali ini.

Langkah Tiongkok ini mengirimkan pesan kuat bahwa negara tersebut lebih memilih memperkuat basis produksinya sendiri daripada membuka pintu bagi impor massal pakaian murah dari luar negeri. "Kebijakan ini merupakan sinyal jelas bahwa Tiongkok ingin menurunkan biaya operasional manufaktur untuk memperkuat daya saing ekspor di sektor tekstil bernilai tinggi," ungkap laporan analis dari sektor industri terkait. Dengan memperkuat akses terhadap bahan baku berkualitas dari negara mitra seperti Turki dan Italia, Tiongkok memposisikan dirinya bukan hanya sebagai produsen massal, melainkan sebagai pemimpin dalam inovasi tekstil teknis di pasar global.