Industri ekspor Bangladesh menghadapi tahun yang penuh tantangan pada 2025 dengan mencatatkan penurunan ekspor barang dagangan sebesar hampir 5 persen. Berdasarkan data resmi dari Export Promotion Bureau (EPB), nilai ekspor negara tersebut turun menjadi 47,74 miliar USD dibandingkan tahun sebelumnya. Lemahnya permintaan global untuk produk garmen dan barang konsumsi lainnya menjadi faktor utama yang menekan pengiriman, di tengah ketegangan geopolitik akibat perang Rusia-Ukraina dan konflik di Timur Tengah yang mengganggu rute perdagangan serta rantai pasok global.

Sektor garmen, yang menyumbang lebih dari 84 persen pendapatan ekspor Bangladesh, terpukul sangat keras akibat kebijakan tarif timbal balik yang diterapkan oleh Amerika Serikat. Upaya eksportir lokal untuk melakukan front-loading atau mempercepat pengiriman sebelum pemberlakuan tarif tinggi pada Agustus lalu justru berujung pada penurunan drastis pesanan selama musim puncak Natal. "Permintaan dari Amerika Serikat melemah karena harga-harga naik mengikuti penerapan tarif," ujar Md Shehab Udduza Chowdhury, Wakil Presiden Bangladesh Garment Manufacturers and Exporters Association (BGMEA). Ia menambahkan bahwa ekspor ke Uni Eropa juga tergerus oleh serbuan produk berharga lebih murah dari negara pesaing seperti Tiongkok, India, dan Vietnam yang mengalihkan pasar mereka akibat hambatan tarif di AS.

Data menunjukkan bahwa pada bulan Desember saja, ekspor garmen anjlok sebesar 14,23 persen menjadi 3,14 miliar USD. Penurunan ini mencerminkan tekanan eksternal yang berat, termasuk kenaikan biaya produksi dan persaingan harga yang kian tajam di pasar internasional. Meski sektor garmen melesu, harapan muncul dari upaya diversifikasi ekspor. Beberapa sektor non-garmen seperti tekstil khusus, produk kimia, kulit, hingga sepeda mencatatkan pertumbuhan. Md Abul Hossain, Ketua Asosiasi Pabrik Rami Bangladesh (BJMA), mencatat bahwa ekspor rami dan produk turunannya mengalami peningkatan dalam enam bulan terakhir berkat fokus pada produk bernilai tambah.

Selain faktor eksternal, tantangan domestik berupa kondisi politik yang fluktuatif dan terbatasnya akses pembiayaan bank turut membebani para pelaku usaha. Namun, para produsen tetap optimistis bahwa pengiriman akan pulih setelah stok inventaris di pasar Barat menipis dan permintaan kembali normal. Meskipun secara keseluruhan mengalami penurunan selama lima bulan berturut-turut hingga Desember, kenaikan tipis sebesar 1,97 persen dibandingkan bulan November memberikan sinyal awal pemulihan bulanan yang diharapkan dapat berlanjut hingga tahun 2026.