Industri tekstil dan garmen Vietnam tengah menatap cakrawala baru dengan ambisi besar di tahun 2026. Setelah mencatatkan rekor ekspor senilai 46 miliar dolar AS pada tahun 2025, sektor andalan Negeri Naga Biru ini kini mematok target ambisius sebesar 50 miliar dolar AS untuk tahun mendatang. Langkah ini menjadi bagian dari visi besar Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam yang menargetkan tambahan nilai ekspor nasional hingga 38 miliar dolar AS, menyusul capaian bersejarah total ekspor negara sebesar 475 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya.

Namun, jalan menuju target tersebut diprediksi tidak akan mulus karena adanya tekanan eksternal yang semakin kompleks. Para pelaku industri kini harus berhadapan dengan tembok tarif resiprokal dari Amerika Serikat—pasar ekspor terbesar Vietnam—serta mekanisme proteksi lingkungan yang ketat dari Uni Eropa melalui Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM). Kebijakan CBAM ini mewajibkan pelaporan emisi karbon yang ketat bagi produk industri, yang secara tidak langsung memaksa pabrikan garmen untuk melakukan transformasi besar-besaran menuju energi terbarukan dan proses produksi yang ramah lingkungan.

Menanggapi tantangan tersebut, Ketua Asosiasi Tekstil dan Pakaian Jadi Vietnam (VITAS), Vu Duc Giang, menegaskan bahwa pencapaian target 50 miliar dolar AS bukanlah sekadar lonjakan jangka pendek, melainkan hasil dari restrukturisasi rantai pasok yang mendalam. “Fokus utama industri saat ini adalah memperkuat rantai pasokan domestik, meningkatkan tingkat lokalisasi bahan baku, dan memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas (FTA) secara lebih efektif guna memperkuat posisi bisnis Vietnam dalam rantai nilai global,” ungkapnya dalam sebuah pernyataan resmi. Dengan tingkat lokalisasi bahan baku yang kini telah mencapai 52 persen, Vietnam berupaya mengurangi ketergantungan pada impor kain dan aksesori dari negara lain.

Optimisme juga datang dari laporan Vietnam Outlook 2026 oleh MB Securities, yang memproyeksikan pertumbuhan ekspor sektor ini dapat mencapai 15 hingga 16 persen. Pertumbuhan ini akan didorong oleh ekspansi pasar ke wilayah baru dan pergeseran fokus produksi ke barang-barang bernilai tambah tinggi, seperti tekstil teknis dan pakaian fungsional. Melalui kombinasi antara digitalisasi manufaktur dan komitmen terhadap keberlanjutan, Vietnam tidak hanya ingin mempertahankan dominasinya sebagai pusat produksi global, tetapi juga membuktikan ketangguhannya dalam menyerap guncangan geopolitik dan regulasi perdagangan internasional yang dinamis.