Sektor industri garmen Kamboja menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah tantangan pasar global, dengan mencatatkan pertumbuhan ekspor pakaian sebesar 5,6 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi 4,449 miliar dolar AS sepanjang lima bulan pertama tahun 2026. Meskipun terjadi penurunan performa pengiriman pada bulan Mei, industri ini tetap memegang peran krusial sebagai penyumbang devisa ekspor terbesar bagi negara tersebut.
China perlahan mulai menanggalkan citranya sebagai "Pabrik Dunia" yang hanya berfokus pada ekspor besar-besaran. Di tengah dinamika perang tarif dan kebijakan perdagangan global, China kini justru bersiap mengambil peran baru yang strategis: menjadi pasar ekspor utama bagi ekonomi negara-negara Asia lainnya.
Sektor industri pakaian jadi yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Sri Lanka kini tengah berada dalam situasi kritis, di mana para produsen skala kecil dan menengah (UKM) menjadi pihak yang paling hancur dihantam krisis. Berdasarkan laporan pemantauan pasar terbaru, nilai ekspor pakaian jadi negara pulau tersebut dilaporkan merosot sekitar 8 persen pada kuartal pertama tahun 2026 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penurunan tajam ini menyingkap kerentanan besar pada sektor yang menjadi ladang devisa utama negara tersebut di tengah melemahnya permintaan global dan tingginya ketidakpastian geopolitik.
Industri manufaktur pakaian jadi di Asia Tenggara terus menunjukkan taji kompetitifnya di pasar global. Berdasarkan data terbaru dari Departemen TI dan Statistik Bea Cukai di bawah Kementerian Keuangan Vietnam, nilai ekspor tekstil dan garmen negara tersebut—tidak termasuk komoditas benang dan serat—berhasil tumbuh tipis sebesar 0,4 persen secara tahunan (year-on-year) hingga mencapai angka 15,130 miliar dolar AS sepanjang periode Januari hingga Mei 2026.
Pasar mode digital China, yang selama ini dipuja sebagai pusat inovasi e-commerce dunia, kini tengah terjebak dalam paradoks yang melumpuhkan: volume penjualan meroket, namun keuntungan justru amblas. Biang keladinya adalah lonjakan luar biasa angka pengembalian barang (returns), terutama pada kategori pakaian wanita, yang kini menyentuh angka fantastis 80 persen. Fenomena yang dulunya dianggap sebagai biaya layanan pelanggan biasa, kini bermutasi menjadi 'pajak retur' yang menguras kantong para pelaku usaha di setiap lapisan rantai pasok.
Page 5 of 14