Industri tekstil dan pakaian jadi (T&A) Filipina memulai tahun 2026 dengan dinamika pasar yang kontras, mempertegas ketergantungan negara tersebut pada pasokan luar negeri untuk memenuhi kebutuhan domestik. Berdasarkan laporan terbaru Statistik Perdagangan Barang Internasional (IMTS) yang dirilis oleh Otoritas Statistik Filipina (PSA), nilai impor gabungan produk tekstil dan pakaian melonjak tajam menjadi 233,60 juta dolar AS pada Januari 2026. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar 196,09 juta dolar AS, sebuah tren yang dipicu oleh derasnya arus masuk bahan baku tekstil dan pakaian jadi ke pasar Manila.

Pendorong utama lonjakan ini adalah sektor benang dan kain tekstil yang mencatatkan nilai impor sebesar 140,16 juta dolar AS, naik drastis dari 104,31 juta dolar AS pada Januari 2025. Kenaikan impor kain yang kuat ini mengindikasikan adanya permintaan yang berkelanjutan dari produsen pakaian dalam negeri serta perusahaan dagang yang berusaha mengisi stok di awal tahun. Selain itu, impor serat tekstil dan limbah juga merangkak naik menjadi 13,17 juta dolar AS, sementara artikel pakaian jadi dan aksesori pakaian sedikit menguat di angka 80,27 juta dolar AS. Data ini memperkuat posisi Filipina sebagai pasar yang sangat bergantung pada input tekstil impor untuk menggerakkan roda industri manufaktur lokalnya.

Namun, kegairahan di sisi impor tidak diikuti oleh performa ekspor yang serupa. Filipina mencatat kinerja ekspor yang bervariasi dengan kecenderungan menurun. Ekspor artikel pakaian dan aksesori justru melesu ke angka 46,39 juta dolar AS, turun dari 52,74 juta dolar AS pada tahun sebelumnya. Meski ekspor benang dan kain tekstil mengalami sedikit kenaikan tipis menjadi 24,93 juta dolar AS, total ekspor gabungan sektor ini hanya mencapai 71,32 juta dolar AS. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan capaian Januari 2025 yang sebesar 77,00 juta dolar AS. Ketimpangan ini menciptakan kesenjangan perdagangan yang lebar, di mana nilai impor kini mencapai lebih dari tiga kali lipat nilai ekspor negara tersebut.

Para analis industri mencatat bahwa tren ini merupakan kelanjutan dari pola perdagangan tahun 2025, di mana Filipina mengimpor tekstil senilai 2,289 miliar dolar AS. Meskipun ekspor sepanjang tahun lalu sempat menunjukkan pertumbuhan positif hingga menembus angka 1 miliar dolar AS, awal tahun 2026 menjadi pengingat bahwa tantangan global masih membayangi daya saing produk garmen Filipina di kancah internasional. Ketergantungan pada bahan baku impor membuat biaya produksi domestik rentan terhadap fluktuasi harga global, sebuah realitas yang harus dihadapi para perajin dan pengusaha tekstil Filipina di tengah upaya mereka untuk tetap relevan di pasar mode dunia yang kompetitif.