Industri tekstil dan garmen Vietnam kini tengah menghadapi tantangan besar yang menuntut transformasi digital secara cepat. Uni Eropa (UE) telah menetapkan peta jalan wajib untuk implementasi Digital Product Passport (DPP) yang akan berlaku efektif mulai pertengahan 2028. Kebijakan ini mewajibkan setiap produk garmen yang masuk ke pasar Eropa memiliki transparansi data yang komprehensif, mulai dari detail produksi hingga jejak karbon yang dihasilkan.

Sektor industri garmen Kamboja menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah tantangan pasar global, dengan mencatatkan pertumbuhan ekspor pakaian sebesar 5,6 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi 4,449 miliar dolar AS sepanjang lima bulan pertama tahun 2026. Meskipun terjadi penurunan performa pengiriman pada bulan Mei, industri ini tetap memegang peran krusial sebagai penyumbang devisa ekspor terbesar bagi negara tersebut.

Industri manufaktur pakaian jadi di Asia Tenggara terus menunjukkan taji kompetitifnya di pasar global. Berdasarkan data terbaru dari Departemen TI dan Statistik Bea Cukai di bawah Kementerian Keuangan Vietnam, nilai ekspor tekstil dan garmen negara tersebut—tidak termasuk komoditas benang dan serat—berhasil tumbuh tipis sebesar 0,4 persen secara tahunan (year-on-year) hingga mencapai angka 15,130 miliar dolar AS sepanjang periode Januari hingga Mei 2026.

China perlahan mulai menanggalkan citranya sebagai "Pabrik Dunia" yang hanya berfokus pada ekspor besar-besaran. Di tengah dinamika perang tarif dan kebijakan perdagangan global, China kini justru bersiap mengambil peran baru yang strategis: menjadi pasar ekspor utama bagi ekonomi negara-negara Asia lainnya.

Sektor industri pakaian jadi yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Sri Lanka kini tengah berada dalam situasi kritis, di mana para produsen skala kecil dan menengah (UKM) menjadi pihak yang paling hancur dihantam krisis. Berdasarkan laporan pemantauan pasar terbaru, nilai ekspor pakaian jadi negara pulau tersebut dilaporkan merosot sekitar 8 persen pada kuartal pertama tahun 2026 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penurunan tajam ini menyingkap kerentanan besar pada sektor yang menjadi ladang devisa utama negara tersebut di tengah melemahnya permintaan global dan tingginya ketidakpastian geopolitik.