China tengah melakukan lompatan besar dalam pengembangan infrastruktur nasional dengan mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) serta prinsip keberlanjutan ke dalam jaringan transportasinya. Di bawah target Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030), negara ini berkomitmen untuk membangun sistem transportasi modern melalui serangkaian proyek strategis yang ambisius guna memperkuat sirkulasi ekonomi dan pembangunan regional.

Salah satu tonggak penting dalam upaya ini adalah dimulainya proyek jalur air senilai 11,33 miliar dolar AS di sepanjang Sungai Yangtze. Proyek ini diproyeksikan mampu melipatgandakan kapasitas arus tahunan pusat pengiriman Tiga Ngarai (Three Gorges) yang ada saat ini, sekaligus mengurangi tekanan navigasi di Sungai Yangtze. Selain itu, di Wilayah Otonomi Guangxi Zhuang, Kanal Pinglu yang sepanjang 134,2 kilometer telah mencapai konektivitas kanal penuh dan memasuki fase akhir menjelang peresmiannya pada September mendatang. Kanal ini akan menjadi salah satu kanal pengiriman sungai-ke-laut kelas tertinggi di dunia dengan kemampuan mengakomodasi kapal hingga 5.000 ton.

Transformasi digital juga merambah sektor transportasi darat. China kini mengaplikasikan berbagai teknologi canggih seperti digital twins, sistem koordinasi kendaraan-jalan-awan, dan AI di jalan raya maupun sistem transportasi perkotaan. Hingga saat ini, lebih dari 7.800 kilometer jalan tol di seluruh negeri telah menjalani peningkatan digital dan cerdas, termasuk pembukaan ruas jalan tol pintar baru di Guangxi. Investasi aset tetap di sektor transportasi tercatat mencapai 894,4 miliar yuan dalam empat bulan pertama tahun ini, memperkuat jaringan transportasi yang kini telah membentang lebih dari 6 juta kilometer.

Di sektor maritim, komitmen China terhadap transportasi hijau ditunjukkan dengan peluncuran kapal kontainer pintar bertenaga listrik murni terbesar di dunia dari Pelabuhan Ningbo-Zhoushan pada pertengahan April lalu. Kapal yang menggunakan paket baterai sebagai sumber tenaga utama ini diharapkan mampu menghemat 580 ton bahan bakar dan memangkas emisi karbon dioksida lebih dari 1.400 ton setiap tahunnya.

Selain proyek jalur air dan jalan raya, China juga terus memperluas jaringan kereta api dan transportasi perkotaan. Pembangunan jembatan terakhir di jalur kereta api berkecepatan tinggi Chongqing-Wanzhou telah diselesaikan, sementara jalur kereta bawah tanah 22 di Beijing yang menghubungkan ibu kota dengan Provinsi Hebei dijadwalkan siap beroperasi pada akhir tahun. Melalui serangkaian langkah progresif ini, China tidak hanya memperluas konektivitas fisik, tetapi juga memodernisasi infrastrukturnya menjadi lebih efisien, cerdas, dan ramah lingkungan.