Di tengah badai tantangan yang menghantam industri tekstil Turki selama tiga tahun terakhir, para eksportir kini menoleh pada satu komoditas yang sebelumnya dianggap remeh: rami atau hemp. Sektor tekstil Turki saat ini tengah terimpit oleh lonjakan biaya tenaga kerja yang mencapai lebih dari 146 persen, inflasi yang menggerogoti daya saing, serta tingginya suku bunga yang membuat biaya produksi membengkak. Di tengah tekanan ekonomi yang memaksa banyak produsen mencari jalan keluar, rami muncul sebagai jawaban strategis untuk memposisikan kembali produk tekstil Turki di panggung internasional.

Upaya ini bukan sekadar wacana. Dalam ajang Texhibition Istanbul baru-baru ini, rami menjadi primadona di Innovation Hub, sebuah ruang khusus yang memamerkan kemajuan teknologi tekstil. Berbeda dengan pameran konsep semata, produk yang ditampilkan di sana merupakan hasil nyata dari para eksportir yang sudah mengintegrasikan kain rami dan campuran rami-kapas ke dalam lini komersial mereka. Langkah ini diambil untuk menangkap permintaan yang terus tumbuh dari pasar Eropa dan Amerika Utara, di mana konsumen muda semakin sadar akan pentingnya material berkelanjutan.

Desainer kenamaan Turki, Arzu Kaprol, mengungkapkan bahwa pandangan industri terhadap rami telah berubah drastis. Ia menyoroti bagaimana rami kini menjadi pembanding serius bagi kapas karena keunggulannya dalam keberlanjutan produksi, kelembutan yang lebih baik dari linen, serta kemampuannya mengelola kelembapan. Tren ini pun tidak lepas dari perhatian merek-merek global seperti Patagonia dan Levi Strauss & Co. yang mulai bereksperimen dengan koleksi berbahan rami demi mencari alternatif serat yang lebih ramah lingkungan.

Strategi Turki pun cukup unik. Alih-alih bersaing pada skala produksi pertanian seperti China atau India, Turki memanfaatkan infrastruktur tekstilnya yang canggih untuk menjadi pemasok garmen rami pilihan bagi merek-merek fesyen Eropa. Perusahaan seperti Egedeniz Textile bahkan telah melakukan investasi langsung dalam budidaya rami dan mengintegrasikannya secara vertikal untuk memastikan keberlanjutan dan keterlacakan produk.

Lebih dari sekadar material fesyen, rami juga terbukti memiliki nilai tambah dalam praktik pertanian regeneratif. Mehmet Ünsal, direktur Egedeniz Group, menceritakan pengalamannya dalam menanam rami bersama kapas. Tanaman rami terbukti berfungsi sebagai penolak alami bagi hama laba-laba merah yang biasanya merusak tanaman kapas. Tanpa perlu pestisida atau bahan kimia tambahan, rami membantu menyeimbangkan ekosistem secara alami. Dengan kualitas yang terus membaik dan permintaan yang stabil, rami kini bukan sekadar tren sesaat bagi industri tekstil Turki, melainkan kunci untuk bertahan dan bertumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi global.