Sektor industri garmen Kamboja menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah tantangan pasar global, dengan mencatatkan pertumbuhan ekspor pakaian sebesar 5,6 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi 4,449 miliar dolar AS sepanjang lima bulan pertama tahun 2026. Meskipun terjadi penurunan performa pengiriman pada bulan Mei, industri ini tetap memegang peran krusial sebagai penyumbang devisa ekspor terbesar bagi negara tersebut.
Berdasarkan data dari Departemen Umum Bea Cukai dan Cukai (GDCE) di bawah Kementerian Ekonomi dan Keuangan, ekspor pakaian menyumbang 31,7 persen dari total ekspor barang dagangan Kamboja yang mencapai 14,043 miliar dolar AS dalam periode Januari hingga Mei 2026. Secara rinci, ekspor pakaian rajut (knitted) di bawah Bab HS 61 tumbuh sebesar 4,5 persen menjadi 2,817 miliar dolar AS, sementara pakaian non-rajut (non-knitted) di bawah Bab HS 62 mencatatkan pertumbuhan lebih kuat sebesar 7,5 persen menjadi 1,632 miliar dolar AS.
Namun, momentum pertumbuhan ini sempat terhambat pada bulan Mei 2026, di mana total ekspor pakaian turun 7,28 persen menjadi 993,941 juta dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pakaian rajut mengalami kontraksi tajam sebesar 11,9 persen, sementara pakaian non-rajut justru masih mampu tumbuh tipis sebesar 3,4 persen. Perbedaan kinerja ini mengindikasikan bahwa permintaan untuk produk garmen tenun relatif lebih tangguh dibandingkan dengan pakaian rajut yang menghadapi tekanan pasar lebih besar.
Seiring dengan dinamika ekspor, terjadi pula pergeseran pola dalam rantai pasok bahan baku tekstil di Kamboja. Impor kain rajut atau kain kaitan turun sebesar 2,5 persen menjadi 1,381 miliar dolar AS, dan impor serat buatan manusia juga menyusut tipis 0,8 persen menjadi 600,466 juta dolar AS. Sebaliknya, impor kapas dan benang katun melonjak drastis sebesar 27,1 persen menjadi 415,842 juta dolar AS. Lonjakan impor kapas ini mencerminkan tingginya permintaan untuk manufaktur garmen berbasis katun serta potensi perubahan bauran produk menuju pakaian berbahan serat alami.
Kinerja kumulatif sepanjang tahun ini mempertegas posisi Kamboja dalam pemulihan permintaan pakaian global. Keberhasilan Kamboja dalam mempertahankan tren positif, meski sempat mengalami perlambatan bulanan, didukung oleh strategi diversifikasi sumber pasokan global yang terus bergeser dari China menuju basis produksi di Asia Tenggara yang menawarkan biaya lebih kompetitif dan preferensi tarif.