Eropa kini tengah berpacu dengan waktu untuk mengatasi krisis limbah tekstil yang kian menggunung. Di tengah dominasi tren fast fashion, sebuah laporan terbaru dari Boston Consulting Group (BCG) dan inisiatif ReHubs memberikan peringatan keras: ambisi membangun ekonomi tekstil sirkular di benua tersebut membutuhkan investasi raksasa hingga 11 miliar euro atau sekitar 190 triliun rupiah pada tahun 2035. Tanpa suntikan modal besar-besaran, upaya mengubah pakaian bekas menjadi serat baru hanya akan menjadi angan-angan semata.

Dunia mode global saat ini tengah berada di bawah tekanan besar untuk segera meninggalkan sistem linear "ambil-buat-buang" yang dianggap merusak lingkungan. Merespons tantangan tersebut, Global Fashion Agenda (GFA) dan raksasa pembayaran Visa resmi meluncurkan inisiatif strategis bertajuk ‘Visa Young Creators: Recycle the Runway’. Program ini bukan sekadar kompetisi desain biasa, melainkan sebuah intervensi nyata senilai €110.000 (sekitar Rp1,8 miliar) yang bertujuan untuk meningkatkan skala bisnis model mode sirkular di seluruh daratan Eropa. Di tengah ketatnya regulasi tekstil baru di Uni Eropa, dukungan finansial dan pendampingan teknis ini menjadi jembatan krusial bagi para kreator muda untuk mengubah proyek upcycling dan resale skala kecil menjadi perusahaan yang mampu bersaing di pasar pakaian global senilai US$1,7 triliun.