Industri tekstil Pakistan, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional, kini tengah menghadapi badai ketidakseimbangan struktural yang mengancam keberlangsungannya. Berdasarkan data terbaru dari Biro Statistik Pakistan (PBS) untuk sembilan bulan pertama tahun fiskal 2025–2026 (9MFY26), sektor ini mencatatkan kontribusi sebesar US$ 13,54 miliar bagi devisa negara. Namun, angka tersebut tidak mampu menutupi fakta pahit adanya penurunan tajam sebesar 7,27 persen pada total ekspor barang dagangan secara tahunan. Pukulan paling telak terasa pada Februari 2026, di mana pengiriman tekstil anjlok hingga 25,43 persen dibandingkan bulan sebelumnya, menyisakan nilai ekspor hanya sebesar US$ 1,3 miliar.
Meskipun segmen pakaian jadi (ready-made garments/RMG) dan rajutan sempat menunjukkan ketahanan dengan nilai ekspor mencapai US$ 2,58 miliar pada periode Juli-Januari, pencapaian tersebut belum cukup kuat untuk mengimbangi kemerosotan volume tekstil secara luas. Akar permasalahannya bukan terletak pada rendahnya permintaan global semata, melainkan pada ketimpangan biaya energi yang kian melebar dibandingkan negara tetangga. Tarif listrik industri di Pakistan saat ini menyentuh angka 13 sen per kWh, hampir dua kali lipat lebih mahal daripada tarif di India dan Vietnam yang hanya berkisar antara 5 hingga 9 sen per kWh.
Kesenjangan biaya ini diperparah oleh mekanisme subsidi silang senilai US$ 1,3 miliar yang membebani sektor industri. Perwakilan dari All Pakistan Textile Mills Association (APTMA) memberikan peringatan keras mengenai situasi ini. "Basis industri kita didorong menuju penurunan yang tidak dapat diperbaiki karena subsidi silang ini bertindak sebagai pajak tersembunyi yang tidak dapat diekspor," tegasnya. Kondisi ini membuat banyak operasi manufaktur skala menengah tidak lagi layak secara finansial, sehingga daya saing Pakistan di pasar internasional kian tergerus oleh tingginya suku bunga dan volatilitas logistik global.
Di tengah situasi yang mencekam ini, raksasa industri seperti Gul Ahmed Textile Mills mencoba bertahan dengan melakukan langkah-langkah strategis. Perusahaan yang berbasis di Karachi ini terus memodernisasi unit pemrosesannya demi meningkatkan efisiensi energi guna menekan biaya produksi yang melambung. Selain melayani pasar utama di Uni Eropa dan Amerika Serikat, Gul Ahmed juga memperkuat jejak ritel domestiknya melalui merek "Ideas" untuk menjaga stabilitas finansial. Namun, keberhasilan satu atau dua perusahaan besar tidaklah cukup untuk menyelamatkan seluruh sektor jika pemerintah tidak segera membenahi ketidakseimbangan biaya energi yang mencekik ribuan unit pemintalan dan penenunan di seluruh negeri. Jika tidak ada intervensi kebijakan yang nyata, pemulihan ekspor tekstil Pakistan diprediksi akan tetap terhambat meski segmen pakaian jadi terus mencoba untuk bangkit.