Industri tekstil rumah tangga Bangladesh mengawali tahun 2026 dengan guncangan hebat setelah mencatatkan kontraksi ekspor yang sangat tajam pada kuartal pertama. Berdasarkan data terbaru dari alat intelijen pencarian, nilai ekspor sektor ini terjun bebas sebesar 47,8 persen secara tahunan menjadi hanya $170,52 juta pada periode Januari hingga Maret 2026. Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang masih mampu meraup $326,43 juta, mencerminkan melemahnya permintaan secara masif di pasar-pasar utama dunia, terutama Amerika Serikat dan Eropa.

Penurunan ini sebagian besar dipicu oleh berkurangnya pengiriman ke destinasi ekspor utama yang menandakan adanya sikap sangat berhati-hati dari para pembeli global dalam melakukan pengadaan barang. Amerika Serikat, yang selama ini menjadi pasar terbesar bagi Bangladesh, mencatatkan penurunan impor sebesar 44 persen menjadi $34,05 juta dibandingkan kuartal pertama tahun sebelumnya yang mencapai $61,80 juta. Meskipun volume perdagangannya menyusut, Amerika Serikat tetap mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar dengan pangsa 19,97 persen dari total ekspor Bangladesh. Destinasi kunci lainnya seperti Prancis, Kanada, India, dan Inggris juga menunjukkan angka yang tidak menggembirakan, sementara Jerman yang pada tahun 2025 merupakan pasar Eropa yang sangat kuat, justru menghilang dari daftar destinasi utama pada awal tahun ini.

Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan berat dari sisi permintaan serta proses koreksi inventaris yang sedang berlangsung di negara-negara pengimpor. Sebagai perbandingan, tahun 2025 sebenarnya sempat memberikan harapan melalui kinerja tahunan yang stabil di mana total ekspor naik menjadi $1,25 miliar dari $1,16 miliar pada tahun 2024. Namun, hilangnya diversifikasi pasar di awal 2026, ditandai dengan melemahnya permintaan regional dan Eropa, menggarisbawahi skala perlambatan ekonomi yang sedang terjadi. Para analis menilai bahwa pergeseran dinamika perdagangan ini memaksa para produsen di Bangladesh untuk menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Menanggapi situasi ini, Nusa Urbancic, CEO dari Changing Markets Foundation, memperingatkan bahwa selain masalah permintaan, gangguan pada rantai pasok global dan kenaikan biaya energi akibat ketidakstabilan geopolitik turut menekan margin keuntungan manufaktur. Tekanan biaya ini, jika dikombinasikan dengan daya beli konsumen global yang sedang menurun, menciptakan badai sempurna bagi sektor tekstil rumah tangga. Rachel Kitchin dari Stand.earth menambahkan bahwa ketergantungan pada model produksi massal dengan margin tipis membuat industri ini sangat rentan terhadap guncangan pasar seperti yang terjadi di awal tahun 2026 ini. Masa depan sektor ini kini bergantung pada kemampuan perusahaan untuk bertahan di tengah siklus pengadaan pembeli yang semakin ketat dan tidak menentu.