Fenomena nearshoring yang membawa gelombang pesanan besar dari Amerika Serikat ke koridor Amerika Tengah kini menghadapi ujian berat di sisi fundamental ketenagakerjaan. Laporan industri terbaru awal tahun 2026 menyoroti tantangan keberlanjutan yang krusial di Guatemala, Honduras, dan El Salvador, di mana infrastruktur fisik yang berkembang pesat ternyata belum diimbangi dengan perbaikan hak-hak buruh dan penghapusan kesenjangan gender. Di tengah ambisi wilayah ini untuk menggeser dominasi Asia dalam rantai pasok global, para aktivis dan analis memperingatkan bahwa tanpa perbaikan kesejahteraan pekerja yang nyata, kontrak-kontrak berharga dengan merek global terancam diputus demi mematuhi standar etika internasional yang semakin ketat.

Isu kesenjangan gender menjadi sorotan utama mengingat mayoritas tenaga kerja di sektor garmen Amerika Tengah adalah perempuan. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa meskipun perempuan mendominasi lantai produksi, posisi manajerial masih didominasi laki-laki, ditambah dengan laporan mengenai ketidaksetaraan upah dan minimnya akses terhadap perlindungan kesehatan reproduksi. Hal ini menciptakan risiko reputasi bagi brand internasional yang kini diwajibkan oleh konsumen global untuk membuktikan transparansi etis di seluruh lini produksi mereka. Tekanan ini memaksa para pemilik pabrik di koridor Amerika Tengah untuk memikirkan ulang model bisnis mereka, beralih dari sekadar mengejar biaya produksi rendah menuju pemenuhan standar kerja yang layak.

Seorang pakar kebijakan perburuhan dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) di wilayah tersebut menyatakan bahwa momentum nearshoring adalah pedang bermata dua bagi negara-negara Segitiga Utara. "Kita memiliki kesempatan emas untuk menciptakan jutaan lapangan kerja, namun lapangan kerja tersebut haruslah bermartabat. Merek-merek global saat ini tidak hanya mencari kecepatan logistik, tetapi juga jaminan bahwa produk mereka tidak ternoda oleh pelanggaran hak buruh atau diskriminasi gender," tegasnya. Menurutnya, kegagalan dalam memperbaiki kondisi kerja akan membuat pembeli besar beralih ke hub produksi lain yang lebih "siap etika," meskipun secara geografis lebih jauh.

Desakan ini mulai membuahkan respons dari asosiasi industri lokal. Di Honduras, beberapa konsorsium pabrik telah mulai menerapkan sistem upah transparan dan program pelatihan kepemimpinan khusus perempuan sebagai syarat untuk mempertahankan kontrak jangka panjang dengan perusahaan ritel Amerika Serikat. Namun, tantangan berupa birokrasi lokal dan kurangnya pengawasan pemerintah masih menjadi penghambat besar. Masa depan industri garmen di Amerika Tengah tahun 2026 kini sangat bergantung pada kemampuan mereka untuk menyelaraskan antara kecepatan produksi nearshoring dengan tanggung jawab sosial yang tervalidasi, membuktikan bahwa efisiensi ekonomi dapat berjalan beriringan dengan keadilan sosial.